Mari baca

Februari 25, 2010

29 Pelajaran Berharga dari Kisah Da’I Cilik

Filed under: Dakwah,Pendidikan — Mohd Riduan Khairi @ 6:03 am
Buku : 29 Pelajaran Berharga dari Kisah Da’I Cilik
Penulis : Fariq Gasim Anuz
Penerbit : Darus Sunnah Press, Jakarta, 2006, 200 + ix hlm.

Penulis: Adri Yanti

Teladan Pendidikan untuk Kepedulian

Perjalanan mengenal buku ini dimulai ketika penulis berusaha menemukan sosok pribadi-pribadi muslim yang cemerlang. Yang tidak hanya shaleh secara individu tetapi juga shaleh secara sosial. Yang tidak hanya terfokus dalam usaha memperbaiki diri dan amalan kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki semangat untuk membangun masyarakat muslim yang lebih baik.

Kita sangat sedih melihat kenyataan sebagian besar kehidupan masyarakat Islam sangat miskin dan tertinggal. Banyak negara Islam tergantung kepada pertolongan negara-negara non Muslim dan terpaksa tunduk pada keinginan mereka. Sementara saudara-saudaranya di negara yang lebih makmur membiarkan hal ini terjadi. Sering muncul pertanyaan, mengapa sekarang umat Islam tidak lagi unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Kerap kali terperangah ketika dihadapkan dengan pertanyaan, mengapa banyak umat muslim yang tidak peduli dengan saudara-saudaranya sendiri. Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam mengamalkan ajaran Islam. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi dan keshalehan sosial. Banyak diantara kita yang sangat rajin menunaikan ibadah, wajib maupun sunnah, memiliki kedudukan dan harta yang melimpah, tapi membiarkan saudara-saudara yang ada di sekelilingnya terpuruk dalam kemiskinan dan kebodohan.

Kesalehan sosial, yang dalam agama Islam disebut itsaar (mengutamakan orang lain) adalah satu sikap yang disenangi oleh Allah SWT. Seperti firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 9,

“Mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Mengutamakan orang lain tidak selalu terkait dengan harta. Kita bisa memberikan perhatian kepada orang lain melalui harta, waktu, tenaga, keterampilan atau pemikiran yang kita miliki. “Kesalehan sosial memiliki banyak manfaat, diantaranya meraih ridha Allah,” ujar sufi Muhammad Al-Syanawi. Sebagai teladan manusia, Nabi SAW selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan peribadinya.

Menarik untuk membaca buku kecil nan lengkap ini. Buku yang menceritakan tentang pertemuan penulisnya dengan dengan seorang anak berumur 12 tahun di Jeddah.  Berselang-seling antara kisah kegiatan yang mereka lakukan bersama dengan hikmah yang bisa kita petik. Disini kita akan melihat kehidupan sehari-hari seorang bocah bernama Achmad yang sedang dipersiapkan oleh orangtuanya untuk menjadi Muslim yang utuh. Yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga mencintai saudaranya sesama muslim. Memenuhi panggilan untuk memanfaatkan keahlian yang dimilikinya untuk kepentingan dan kemajuan Islam. Di sela-sela kegiatan belajarnya yang padat, Ahmad mendaftar diri menjadi relawan di kantor dakwah Islamic Center.

Ahmad adalah bocah kecil dengan prestasi di sekolah dan memiliki prestasi dalam banyak bidang olahraga, serta mahir dalam bahasa Inggeris dan menggunakan komputer. Sedari kecil, orang tuanya telah membekali anaknya dengan pendidikan agama dan akhlak yang mulia. Mempersiapkan putranya untuk menjadi pribadi yang unggul, yang dapat memanfaatkan ilmu dan keterampilannya untuk kemajuan Islam yang kelak akan memberinya manfaat di akhirat kelak. Bukankah Rasulullah SWA bersabda :

”Sesungguhnya yang akan sampai kepada orang yang beriman dari amal dan kebaikannya setelah dia meninggal dunia adalah ilmu yang dia ajarkan dan ia sebarluaskan atau ia tinggalkan anak yang shaleh atau mushaf yang ia wariskan atau masjid yang ia bangun atau rumah yang ia bangun untuk ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan) atau sungai (air) yang ia alirkan atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya saat ia sehat dan masih hidup, akan sampai (ganjaran) kepadanya setelah ia meninggal”

Bila kita hayati sunnah rasul ini, betapa dalam makna yang terkandung di dalamnya, bahwa sebagi seorang muslim kita diperintahkan untuk bisa memanfaatkan segala potensi yang kita miliki untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Karena inilah sesungguhnya perwujudan Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin. Kita harus bersyukur kepada Allah dan salah satu bentuk syukur itu adalah dengan berbuat bagi kepada orang lain.

Kesadaran bahwa pengalaman ajaran Islam tidak hanya sebatas ritual kepada Allah SWT, tidak hanya terbatas kepada menunaikan shalat, zakat dan sedekah perlu di bangun sedini mungkin. Prestasi, kepekaan dan tanggungjawab sosial sebaiknya dibangun mulai dari dalam kehidupan keluarga. Menumbuhkan minat anak-anak untuk senantiasa bisa membantu orang lain sejak dari kecil. Orang tua Ahmad begitu gembira ketika anaknya diajak untuk menjadi relawan di kantor Islamic Center. Bergaul dengan orang-orang yang baik dan shaleh dan berdedikasi bagi kemajuan umat manusia. Orang tuanya berharap agar anaknya bisa terhindar dari pergaulan yang buruk dan kelak tumbuh menjadi muslim yang sukses di dunia dan sukses di akhirat.

Buku ini juga bisa dikategorikan sebagai buku How To. Karena tidak hanya memaparkan konsep dan hikmah semata, tetapi juga memaparkan contoh serta panduan untuk pelaksanaan. Seperti ide dan panduan untuk menjalankan kegiatan ”Kotak Bantuan” sebagai salah satu upaya untuk menyediakan pekerjaan bagi para pengangguran. Ada juga panduan untuk menjalankan kegiatan Konsultasi dan Solusi Masalah Pribadi dan Rumah Tangga. Atau kegiatan tausiyah untuk menghibur dan menenangkan hati para pasien rawat inap di rumah sakit – rumah sakit.  Buku ini mengajak kita mulai berfikir dan berbuat bagi saudara-saudara kita secara nyata.  Ironi memang ketika saudara-saudara kita yang berada dalam jerat kemiskinan, dibantu oleh kaum non-muslim, kita berteriak-teriak marah. Namun kita tak tergerak untuk membantu mereka, tak ada yang kita lakukan. Tidak harus hal-hal yang besar, hal-hal kecil seperti mendengarkan keluhan atau menggembirakan orang lain dan membuat orang lain merasa berharga dengan hal-hal kecil.

Mungkin saatnya kita mulai memperbaiki pola pendidikan anak dan juga perbaikan diri kita sendiri. Kalau kita memahami dan mengamalkan Islam dengan Ilmu, Iman dan amal sepenuh hati maka kita akan dapat mempersembahkan Islam yang cantik, indah, ramah tamah, berkasih sayang, toleransi, maju dan benar-benar Rahmatan Lil Alamin.

Tinggalkan Komen »

Tiada komen.

Suapan RSS untuk komen-komen bagi kiriman ini. TrackBack URI

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d bloggers like this: