Mari baca

November 14, 2011

Ada Apa dengan Wahabi?

Filed under: Dakwah,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 3:20 am

Ada Apa dengan Wahabi? Pro Kontra Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Judul Asal : Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdula Wahhab baina …

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah

Penterjemah : Abu Ayyub, S.Pdl.

Penerbit : Al-Ghuroba, Bekasi (2009)

Pada asalnya tema wahabi bukanlah subjek yang saya beri perhatian. Sebagai seorang Muslim tentu sahaja mempelajari tentang Nabi Muhammad (selawat dan salam buatnya) dan peribadi-peribadi yang berada di sekeliling beliau yakni para sahabat (semoga Allah redha kepada mereka semua) jauh lebih utama dan memberi manfaat.

Namun dek kerana usaha-usaha untuk menyebarkan ajaran Nabi dan cara beragama para sahabat sering dibarengi (baca : dihalang) oleh tuduhan dan label ‘wahabi’, subjek ini secara tidak langsung menjadi penting dan relevan untuk didalami. Asal sahaja tegas dan kotmited dalam isu-isu akidah dan syirik dituduh wahabi. Asal sahaja menyampaikan pandangan yang menyelisihi pegangan umum dikatakan wahabi. Sampai-sampai di sebuah negara yang berpegang kepada mazhab Hanafi menuduh orang yang solat dan meletakkan tangan di atas perut dikatakan wahabi (kerana dalam pegangan mazhab Hanafi, mereka meluruskan tangan ke sisi ketika solat). Kalau mengikut kaedah ini, makanya seluruh rakyatMalaysiaadalah wahabi belaka!

Saya memiliki naskah ini dan beberapa naskah lain berkaitan bantahan dan salah faham terhadap mereka yang digelar ‘wahabi’. Dorongan semakin kuat untuk membaca dan memahaminya dengan lebih detil setelah diasak berkali-kali oleh sahabat-sahabat di facebook berkaitan syubhat tentang wahabi dan sejarah kerajaan Arab Saudi. Terlebih lagi tukang bantah wahabi nombor satu diMalaysiayakni Zamihan Md Zin Al-Ghari (ustaz) sudah menerbitkan buku khusus menyerang dan memburuk-burukkan wahabi dan dakwah salafiyah.

Sekali lagi, beliau bukan sahaja menuduh wahabi semata-mata melainkan diiringi denga tududah  wahabi sesat, wahabi menjisimkan Allah dan menamakan beberapa individu sebagai tokohnya termasuk Ustaz Rasul bin Dahri, Dr Maza, Hafidz Firdaus dan akhuna Abu Numair Nawawi Subandi hafidzahumullah.

Rebiu Ada Apa dengan Wahabi?

Syaikh Muhammad Jamil Zainu memulakan naskah ini dengan membawa nostalgia beliau mula-mula berkenalan dengan ‘wahabi’. Ianya bermula apabila beliau bertanya kepada gurunya tentang hadis yang disyarahkan oleh Imam Nawawi dalam Arbain Nawawiyah. Lantaran dari pertanyaan dan kesimpulan yang beliau ambil dari kitab itu, gurunya menuduh beliau sebagai wahabi. Juga beliau bawakan beberapa persoalan agama, membawakan dalil yang berbeza dengan pegangan umum dan dituduh juga wahabi. Lantaran dari tuduhan inilah beliau memulakan ‘kembara ilmu’ nya dan menyertai mereka-mereka yang dituduh sebagai wahabi itu.

Dari satu sudut, ternyata tuduhan dan tohmahan berniat jahat ini tetap memberi faedah dan hikmah kepada dakwah kepada manhaj salaf. Dari komplot jahat ini ternyata melahirkan insane seperti Syaikh Muhammad Jamil Zainu yang melahirkan begitu banyak karya-karya monumental seperti Jalan Golongan Yang Selamat (Firqatun Najiyah). Buku sederhana ini seolah-seolah sebuah naskah wajib bagi mereka yang mahu berkenalan dengan manhaj salaf.

Musuh Wahabi adalah Musuh Islam

Kemudian pada bab yang lain penulis membawakan secara ringkan inti dakwah yang dibawakah oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah yang menjadi sandaran istilah wahabi, yakni memurnikan akidah dan membenteras syirik. Juga catatan ringkas biografi syaikh.

Pada bahagian akhir naskah ini dibawakan pujian dan tanggapan dari tokoh-tokoh Islam dan tokoh orientalis juga terhadap dakwah beliau. Tidak perlu daya beberkan kesemuanya. Saya tampilkan perkataan yang menarik dari Departemen Penerangan Britania,

“Al-Wahabiyyah adalah sebuah nama pergerakan yang ingin memurnikan Islam.Parapengikut wahabiyah hanya meneladani pengajaran Rasulullah sahaja, iaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta tidak mengendahkan selain dari itu.Paramusuh-musuh Wahabiyyah adalah musuh-musuhIslam yang sebenarnya.”

Manakala seorang tokoh orientalis Perancis bernama Henri Lewis pula menuliskan,

“Istilah salafiyyah adalah jolokan yang ditujukan kepada gerakan Wahabi; kerana mereka berusaha mengembalikan Islam kepada ajarannya yang murni, sebagaimana awal-awal Islam di masa as-Salaf ash-Shalih. Sesungguhnya gerakan salafiyyah ini memiliki beberapa keistimewaan tersendiri dibandingkan gerakan-gerakan yang lain. Teori-teori yang diusung oleh gerakan ini lebih masuk akal. Gerakan ini membuka pintu ijtihad, melawah khurafat dan sikap ghuluw dalam agama, serta bekerja sekuat tenaga dalam menyelaskan antara agama dan perkembangan zaman.”

Bantahan Terhadap Kitab ad-Da’wah al-Muhammadiyah; al-Aql al-Hurr wa al-Qalb as-Salim karya Abdul Karim al-Khatib.

Sebahagian besar dari kandungan naskah ini sebenarnya adalah beberapa bantahan penulis terhadap buku di atas.

Penulis membawakan tuduhan yang dikemukakan dan kemudian beliau membawakan bantahannya.Adabeberapa perkara yang menarik dan bermanfaat. Insya Allah saya akan catatkan satu nota dalam entri khusus yang lain. Umumnya, sepertimana tuduhan yang dilakukan oleh mereka yang tidak berada diatas manhaj yang benar; hanya berlegar-legar kepada tanggapan dan cakap-dengar tanpa melakukan ‘tatsabbut’ yakni semakan dan siasatan yang teliti. Berbanding orang yang berpegang dengan manhaj salaf, sentiasa melampirkan sedetil mungkin rujukan pada setiap tuduhan.

Selain itu penentang dakwah salaf selalu melemparkan tuduhan secara rambang a-la peluru tabur. Sebagai contoh menuduh dakwah salaf sebagai terlalu tegas dan keras, tanpa membawakan contoh terperinci.

Dan tuduhan-tuduhan sebeginilah yang selalu diulang-ulang oleh penentang yang datang kemudian. Lagunya sama, hanya sahaja penyanyinya berbeza atau kata orang putih ‘same script, different cast’.

Beberapa catatan-catatan lain akan menyusul berkaitan naskah ini.

Oktober 4, 2011

Jangan Bersedih dan Koreksi Dr Ibrahim ar-Ruhaili

Filed under: Senarai Bacaan,Tips membaca,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 6:47 am

dipetik dari assunnah

sumber : Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H.

BERSEDIHLAH!!!

Koreksi DR. Ibrahim ar-Ruhaili terhadap buku Laa Tahzan dan pengarangnya serta pemikiran da’i kondang Salman Al-Audah dan Safar Hawali

Buku Laa Tahzaan (Jangan Bersedih/Don’t Be Sad) yang ditulis oleh DR. Aidh al-Qorni mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian kaum muslimin. Buku ini katanya mendapatkan label “Best Seller”, namun hal ini tidaklah menunukkan akan kebaikan dan kebenaran buku ini termasuk pengarangnya. Sebetulnya telah beberapa kali kami sampaikan tentang penyimpangan-penyimpangan Salman al-‘Audah, Safar Hawali dan Aidh al-Qorni ini, tapi masih saja ada para pemujanya yang mendustakannya dengan dalih dan alasan yang lebih lemah daripada sarang laba-laba. Semisal ucapan mereka : tunjukkan kepada kami kesalahan.penyimpangan yang terdapat pada buku La Tahzan!!! Dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Oleh karenanya pada edisi ini kami mengangkat sebuah rubrik yang mudah-mudahan bisa menerangi hati para pengagum dan fans Aidh al-Qorni, jika memang masih ada cahaya di hatinya.

Rubrik “Bersedihlah” ini diambil dari soal jawab dengan Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili, dosen faklutas Usuhuluddin, Universitas Islam Madinah, KSA, pada saat Dauroh Syar’iyyah VI di Kebun Teh Agro-Wisata, Lawang, Malang, yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafi Surabaya. Soal Jawab ini ditranskrip oleh al-Akh ‘Abdul Muhsin dan diterjemahkan oleh al-Ustadz Imam Wahyudi, Lc.(Red.)

Pertanyaan : Kami mendengar bahwa para ulama salafiyyin memperingatkan dengan keras dari pemikiran-pemikiran Dr. Salman al-Audah, Dr. Safar al-Hawali, Dr. ‘Aidh al-Qorni, serta yang semisal dengan mereka. Apakah sebenarnya kesalahan-kesalahan mereka, terlebih yang namanya disebutkan paling akhir (Aidh al-Qorni), karena buku-bukunya yang sudah diterjemahkan tersebar luas di negeri kami ; seperti buku “Laa Tahzan” (jangan bersedih).

Jawab : Orang-orang yang telah disebutkan tadi memiliki berbagai penyimpangan dalam banyak bidang, kita tidak mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kebenaran sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, kaset-kaset mereka yang berisi penjelasan atas beberapa buku banyak diminati masyarakat, akan tetapi perkataan mereka banyak menyelisihi manhaj salaf. Diantaranya adalah sikap mereka terhadap pemerintah, yaitu : plin plan, terkadang menyebarkan dan membicarakan aib pemerintah, dan pada lain waktu bersikap loyal dengan pemerintah.

Banyak sekali perkataan di dalam buku-buku mereka bersumber dari perkataan selain Ahlus sunnah, memberikan dalil atas pendapat mereka dengan perkataan orang-orang yang menyelisihi Ahlus sunnah, bahkan terkadang mereka mengambil perkataan para orentalis, seperti buku yang ditanyakan diatas. Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan berilmu agama dan menisbatkan dirinya kepada sunnah, mengarang sebuah buku yang penuh dengan nukilan dari kaum orintalis?

Kemudian judulnya “Laa Tahzan” (jangan bersedih), maksudnya bersedih atas apa ? apakah maksudnya bahwa manusia tidak boleh bersedih atas sesuatupun? Padahal kesedihan itu sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala atas kesabarannya tersebut.

Cara berdialog dengan manusia seperti ini, “Laa Tahzan” (jangan bersedih), kemudian obatnya adalah perkataan kaum orintalis?! ini adalah bukti kedangkalan pemahamannya, seakan-akan al-Qur’an tidak cukup bagi kita dan di dalamnya ada hal yang menjadikan kita bersedih, sehingga kita perlu lari dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan berpaling kepada perkataan kaum orientalis!! Ini sangat berbahaya.

Oknum-oknum di atas memiliki banyak kesalahan, meskipun kesalahan mereka berbeda-beda. ‘Aidh al-Qorni adalah seorang sasterawan, terkadang berbicara sesuai dengan aqidah Ahlus sunnah, dan pada kali yang lain melontarkan pendapat yang amat berbahaya, bahkan sampai kepada derajat kesyirikan serta beberapa istilah aneh. Saya pernah mendengar bait-bait syairnya, isinya dekat dengan pemikiran penganut wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti), sebagian baitnya mendiskreditkan para sahabat dan seterusnya dan masih banyak lagi keanehan-keanehannya(1). Orang ini tidak bisa menjaga lisan dan perkataannya, dan dari dulu terkenal sebagai seorang yang mudah sekali marah.
Oleh karena itu, kita tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang seperti ini. Jika seseorang telah memahami ilmu agama dan metode para ulama, maka dia akan mengetahui bahwa orang-orang ini bukan berada diatas jalannya para ulama. Kita juga tidak terus menerus menuduh niat-niatan manusia, akan tetapi inilah barang dagangan yang mereka tawarkan kepada manusia. Hendaklah kita berhati-hati terhadap perkataan mereka, dan kita kembali kepada perkataan para ulama yang mulia.

Perkataan Ahlus sunnah, itulah yang bermanfaat bagi manusia. Allah telah mencukupkan kita dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dari perkataan makhluk, akan tetapi perkataan para ulama yang mendekatkan pemahaman kita terhadap ilmu syari’at, baik berupa uraian maupun penjelasan panjang lebar, serta pembahasan berbagai permasalahan, inilah yang lebih bermanfaat bagi manusia.

Adapun yang orang-orang yang buku-bukunya berdasarkan perkataan selain Ahlus sunnah, bahkan dari penentang sunnah yaitu kalangan ahlul bid’ah, (maka wajib dijauhi –pent). Sungguh perkataan mereka banyak bersumber dari perkataan Ahlul Bid’ah, semisal Sayyid Quthub dan Muhamad Quthub2. Mereka itu (Salman cs.) secara terang-terangan menyatakan bahwa keduanya adalah ulama mereka, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Anu adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Fulan adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan dengan terang-terangan, bahwa ketika mereka berada di penjara, mereka banyak membaca serta menekuni buku-buku Sayyid Quthub.

Inilah barang dagangan mereka, pemahaman mereka bukan hasil dari pendidikan di atas manhaj yang benar, bahkan terpengaruh dengan sebagian ahlil bid’ah, sehingga menghasilkan penyimpangan manhaj. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk menjauhi buku-buku tersebut, dan juga tidak boleh membantu menyebarkanya, karena di dalamnya penuh dengan kesesatan dan penyimpangan, walau mungkin saja didalamnya ada kebenaran. Akan tetapi yang dimaksud, bukanlah adanya kebenaran dalam sebagian buku akan tetapi yang dimaksud adalah, hendaklah buku tersebut bebas dari kesalahan-kesalahn yang fatal.

Sungguh saya mengatakan bahwa tiada seorangpun yang hatinya disinari oleh Allah dengan Sunnah, ketika membaca perkataan mereka, mendengarkan kaset-kaset mereka, serta banyak bersentuhan dengan buku-buku mereka, pasti akan muncul dalam dirinya penolakan atas perkataan mereka, yaitu orang yang hatinya disinari oleh Allah dengan ilmu agama dan sunnah.

Ketika anda mendengarkan perkataan-perkataan Ibnu Baaz, Ibnu Utsaimin, al-Albani, al-Fauzan dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, mereka adalah para ulama, niscaya anda akan mendapatkan ketenangan dari perkataan para ulama tersebut, yang didukung oleh dalil-dalil, dalam bentuk penjelasan, uraian, dan menentukan pendapat yang lebih kuat. Beda dengan mereka, yang banyak perkataannya tidak berdasarkan dan tidak merujuk kepada dalil-dalil.

Saya teringat, suatu kali dalam salah satu koran, Salman menetapkan dasar-dasar dan metode berdakwah, diantaranya dia menyebutkan point, “Apakah jalur-jalur yang berdampingan itu?” Salman mengatakan : “Sesungguhnya dakwahku dan dakwahmu tidak bertentangan, hakikatnya hanyalah dua jalur dalam satu jalan”, kemudian dia mengatakan : “Bukanlah menjadi syarat dakwahku, agar selaras dengan pikiran anda.”

(Komentar Syaikh Ibrahim) : Dia membekali manusia dengan ungkapan-ungkapan yang membius. Makna perkataannya : Dakwahku yang saya terapkan sekarang ini, kenapa anda menginginkannya selaras dengan pikiran anda, sehingga bisa sukses. Biarkanlah dakwah tersebut berjalan di satu jalur dan anda di jalur yang lain.

Ini adalah perkataan yang keliru, kami tidak mengatakan agar dakwah Salman selaras dengan pikiran kita, akan tetapi hendaklah selaras dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita bukan sedang membicarakan pikiran kita, sampai-sampai anda (Salman) mengatakan istilah jalur-jalur yang selaras, karena dalam dakwah hanya ada satu jalan.

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain(, Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am : 153).

Dakwah kami sekarang ini bukanlah bersumber dari pikiranku. Ketika saya menyampaikannya, saya hanya menyebutkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Inilah barang dagangan mereka. Dia (Salman) menyangka bahwa setiap da’i punya pikiran, anda punya pikiran, saya punya pikiran dan setiap manusia punya pikiran dalam dakwahnya. Inilah yang dia istilahkan dengan jalur-jalur yang selaras, maksudnya : tidak saling bertentangan, semua akan bermuara pada satu jalan. Ini suatu kesalahan.

Kemudian dia menyebutkan beberapa aturan, diantaranya dia menyatakan : “Kita tidak patut sibuk dengan kaum muslimin, sehingga menyebabkan kita lalai dari Yahudi dan Nasrani, musuh kita yang hakiki.”

(Komentar Syaikh) : Aturan ini memiliki konsekwensi, yaitu agar kita tidak membantah kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah, demikian juga kita tidak boleh menyebutkan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam tubuh kaum muslmin, sampai tuntasnya urusan kita dengan Yahudi dan Nasrani.
Padahal, Yahudi dan Nasrani ada sejak zaman Nabi Muhammad sampai zaman kita, bahkan buku-buku ulama salaf yang dikarang untuk membantah ahlil bid’ah, justru ketika Yahudi dan Nasrani masih eksis. Para ulama yang mengarang bantahan terhadap Jahmiyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah dan ahlil bid’ah, mereka semua mengetahui (akan bahayanya) Yahudi dan Nasrani. Kemudian tiba-tiba mereka (Salman cs.) mengatakan : Kami tidak akan membicarakan para penentang sampai urusan kita Yahudi dan Nasrani tuntas.
Inti konsekwensi perkataan ini adalah, kita harus menghentikan dakwah sampai bumi bersih dari Yahudi dan Nasrani. Padahal, kenyataan dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tetap ada sampai akhir zaman, bahkan jumlah mereka banyak.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberitakan, bahwa kalian akan memerangi Yahudi, sampai-sampai batu dan pohon mengatakan : “Wahai muslim, dibelakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah dia.” Dan kita juga tidak mengetahui kapan datangnya masa itu, sehingga kita harus menghentikan dakwah kita sekarang ini, kita tidak berbicara masalah aqidah, tidak membantah orang-orang yang meniadakan nama dan sifat-sifat Allah, menyerupakan Allah dengan makhluk, mengingkari takdir Allah, berpemikiran Murji’ah, mudah mengkafirkan kaum muslimin. Kita tidak boleh berbicara sampai Yahudi dan Nasrani sirna?! siapa yang mengatakan ini?! termasuk ulamakah?

Kemudian Salman mengatakan : “Siapa yang bisa memberikan satu bukti kepada saya, bahwa dia menguasai setiap permasalahan. “ Lihatlah ungkapan yang dia pilih! “menguasai setiap permasalahan”. Yang dimaksud oleh Salman adalah : Dakwah kita sekarang ini, kenapa setiap permasalahan yang dia bicarakan, kalian (Salafiyun) ikut mengomentarinya?! Dan seandainya sekarang dia mendengar perkataan ini, (niscaya kita gunakan juga senjatanya, pent.) kenapa anda mengomentari perkataanku?! Tinggalkan perkataanku! Perkataan Salman ini bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dia mengatakan : “Siapa yang bisa memberikan satu bukti kepada saya, bahwa dia menguasai setiap permasalahan.

Dalilnya sangat jelas, sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

“Siapa saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya “. (HR Muslim)

Perkataan yang disebarkan di koran ini, apakah suatu kesesatan atau kebenaran? ini adalah suatu kesesatan, tidak boleh seseorang yang memiliki ilmu agama lalu mendengar perkataan ini kemudian diam. Inilah dalil tentang wajibnya seorang muslim untuk berbicara, ketika mengetahui suatu kebatilan, serta memperingatkan manusia agar menjauhi ketika mengetahui suatu kebatilan.
Saya teringat diantara perkataannya, dia mengatakan : “Kita memiliki potensi yang amat banyak, buktinya : ada seorang mengatakan suatu ide kemudian ia mengarang sebuah buku, dicetak 3000 atau 6000 exemplar, kemudian ada orang lain membantahnya sebanyak 6000 exemplar, kemudian apa hasilnya? Hasilnya adalah nol!! menyia-nyiakan harta kaum muslimin!!!”

Apa makna perkataanya? Maknanya adalah, buku-buku bantahan itu adalah kerugian. Orang yang lalai ini (Salman) tidak sadar, bahwa ketika seorang menyebarkan diantara manusia 6000, 50.000 atau bahkan berjuta-juta exemplar kebatilan, kemudian ada seorang yang membantahnya, ini hasilnya bukan nol. Mereka tidak mengetahui, bahwa bantahan itu akan memusnahkan bid’ah dan kesesatan yang tersebar ditengah-tengah masyarakat. Mereka berbicara dengan suatu perkataan, yang jika salah seorang awam dari kaum muslimin, yang memiliki fithroh yang sehat, pasti dia mengetahui bahwa perkataan seperti ini adalah suatu kebatilan.

Sebenarnya, saya tidak banyak menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan mereka, saya tidak banyak mendengar kaset-kaset mereka, tidak banyak membaca buku-buku mereka dan tidak pernah secara khusus memperhatikan perkataan orang ini (Salman). Adapun jika saya benar-benar meneliti perkataan mereka di dalam buku-buku mereka, niscaya akan saya dapati hal-hal yang sangat berbahaya.

Maka dari itu, saya nasehatkan kepada para penuntut ilmu, hendaklah ketika mengkritik mereka, haruslah dengan dasar ilmu. Sebagaimana problematika sebagian salafiyin yang tergesa-gesa mengomentari, mencela dan memaki, dengan tanpa bukti. Manusia tidak akan menerima kritikan anda.4
Jelaskan kepada manusia, saya sekarang ini mengkritik Salman dari pembicaraannya yang saya miliki sekarang ini, point-point yang kita sebutkan ada di dalamnya, kemudian kami biarkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah menghukuminya. Semua manusia akan menerima kritikan anda. Beda halnya apabila kita mengkritik tanpa bukti, pasti manusia tidak akan mau menerima komentar anda.

Orang-orang tersebut memiliki pendapat-pendapat (yang batil), maka berhati-hatilah dari buku yang berjudul “Laa Tahzan” (jangan bersedih), bacalah dulu, kemudian perhatikan isinya. Kalangan penuntut ilmu agama yang paling awampun, ketika membaca buku ini, pasti mengetahui kesesatan yang ada didalamnya. Kami katakan dengan sebenarnya, bahwa mereka ini, sama saja, baik dia menginginkan kebaikan atau tidak menginginkannya, perkara itu urusan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi di dalam buku-buku dan kaset-kaset mereka ada muatan penyimpangan aqidah dan manhaj Ahlusunnah yang amat besar. Maka dari itu, kita harus berhati-hati dari buku-buku dan kaset-kaset yang telah merusak sejumlah besar para pemuda. Mereka ini mudah sekali berubah pendirian, setiap hari memakai metode yang baru.

Sampai-sampai, diantara perkataan Salman yang paling akhir saya dengar di radio Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi, dia menjawab : di dalam perayaan Maulid Nabi banyak kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan kurang menjaga kebersihan. Maka penyiar radio –yang tidak menekuni ilmu agama- berkata : Bukankah perayaan maulid itu tidak dikenal pada zaman salaf ? Salman menjawab : iya, iya pendapat ini benar.(5)
Apakah orang seperti ini, yang sekarang dielu-elukan oleh banyak pemuda untuk menduduki kedudukan Imam Ahlus Sunnah?! padahal dia tidak mengetahui hukum perayaan maulid?! ini sangat merepotkan, kita tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh orang-orang ini?! Apakah mereka ingin berbasa-basi dengan ahlul bid’ah, yaitu dalam metode mereka yang terbaru, setelah sebelumnya mereka bersikap sangat keras, bahkan mengeluarkan vonis bid’ah, kufur, kemudian sekarang mereka tinggalkan semua itu?

Sebelumnya, mereka pernah menyatakan bahwa pemerintah Arab Saudi telah kafir, karena membolehkan tabarruj dan memberikan kebebasan kepada kaum wanita, sekarang mereka memperbolehkan wanita menyetir mobil dan membuka hijab (cadar). Mereka menyatakan bahwa hukum wanita menyetir mobil tidak ada dalam surat ini dan itu, sebagian mereka menyatakan, diantaranya ‘Aidh al-Qorni : hukum hijab sekarang ini telah jelas, bahwa wanita yang membuka wajahnya (tidak memakai cadar) hukumnya tidak mengapa.
Ini terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini.6 Akan tetapi yang menjadi titik permasalahan adalah ketidakmenentuaan pendirian mereka. Kemarin bersikap keras, sekarang menggampang-gampangkan. Kemarin mengkafirkan Rofidhoh,7 menyatakan bahwa pemerintah (Arab Saudi) berbasa-basi dengan Rofidhoh, sekarang berbalik menuntut pemerintah untuk membuka sekolah-sekolah Rofidhoh serta duduk berdampingan bersama mereka.

Saya mendengar komentar Salman yang terakhir, kira-kira seminggu yang lalu ketika ia ditanya tentang Iraq. Ia mengatakan : “tidak sepatutnya kita memecah belah kaum muslimin di sana, karena kaum muslimin senantiasa hidup berdampingan antara ahlus sunnah dan syia’h8 dalam kurun waktu yang begitu lama.”

(Komentar Syaikh Ibrahim) Apa makna ‘hidup berdampingan’? dan siapakah dari kalangan awam sekarang ini yang memahami (rahasia) perkataan ini?! Kenapa dia menipu kaum muslimin dan menipu ahlus sunnah?! Komentar yang aneh ini sekarang benar-benar ada.

Saya secara pribadi, sebagaimana yang telah saya sampaikan, tidaklah menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan mereka, atau mendengarkan kaset-kaset mereka, dan tidak juga membaca buku-buku mereka. Akan tetapi yang saya komentari ini, hanyalah sesuatu yang kadang-kadang saya dengar dari radio. Seandainya ada orang yang secara khusus mengamati perkataan mereka, kemudian mengkritik dan mengeluarkan darinya point-point yang menyelisihi aqidah ahlus sunnah, maka pasti dia akan banyak mendapatkannya.

Maka dari itu, saya peringatkan dengan keras para penuntut ilmu yang memahami sunnah, yang diberi anugerah hidayah oleh Alloh, serta yang mengetahui aqidah ahlus sunnah agar mereka berhati-hati dari tipu daya orang-orang seperti mereka ini. Dan kami juga tidak menuntut kepada para penuntut ilmu tersebut untuk bersikap keras secara berlebihan, dengan menuduh mereka sebagai orang-orang zindiq (munafik kelas kakap).

Demi Alloh kami tidak mengatakan dan berkomentar demikian, akan tetapi yang kami katakan adalah, bahwa ada kebodohan di dalam diri mereka, atau di dalam diri mereka terdapat bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan. Adapun perkara mereka tahu atau tidak tahu, itu kembali kepada Alloh. Demikian juga perkara mereka memiliki niatan yang jelek, itu juga kembali kepada Alloh. Adapun berdasarkan perkataan mereka yang sudah tersebar, maka di dalamnya mengandung bid’ah-bid’ah, kesesatan dan penyimpangan dari aqidah ahlus sunnah. Bahkan wajib bagi penuntut ilmu agar berhati-hati terhadap mereka.
Metode yang ditempuh oleh para ulama sudah sangat dikenal, demikian pula keselamatan manhaj mereka dari penyimpangan. Seorang yang masih hidup di kalangan para ulama tidak memiliki sikap yang berbeda-beda (dalam satu permasalahan yang sama), yakni sering berubah-ubah, seperti yang mereka istilahkan “berubah sesuai dengan zaman dan keadaan.” Perubahan sikap para ulama, hanyalah pada masalah-masalah yang mungkin fatwa bisa disesuaikan menurut kejadian-kejadian kontemporer, bukan dalam bentuk “kemarin bersikap keras dalam satu permasalahan, dan sekarang berubah menjadi sikap lembek dalam perkara yang sama.”

Sebelumnya mereka (Salman cs.) mencela habis-habisan siapa saja yang berinteraksi dengan orang-orang yang menyimpang, bahkan sampai-sampai mereka bersikap begitu keras atas dasar apa yang mereka istilahkan “diam atas Rofidhoh”, padahal umat ini tidak tinggal diam untuk menghadapi Rofidhoh. Negara ini beserta para ulamanya senantiasa berupaya untuk membantah Rofidhoh, akan tetapi dengan ilmu dan hikmah. Dan sekarang ini, mereka beralih menuntut dibukanya sekolah-sekolah Rofidhoh, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak bebas di dalam sekolah-sekolah mereka. Jadi, sangat bertolak belakang dengan sikap pertama mereka yang begitu ekstrem.
Ada sebuah fitnah yang saya dengar dari sebuah kaset orang-orang ini, saya tidak tahu, yang berbicara itu Salman atau yang lainnya. Dia mengatakan kepada sebagian pengikutnya dalam bentuk provokasi dengan mengisyaratkan kebengisan tentara seraya mengatakan : “Saya tidak takut terhadap bala tentara, saya juga tidak takut bahaya atas kalian yang timbul dari bala tentara, akan tetapi saya khawatir bala tentara dari kalian.”

Sekarang dia menyerukan toleransi, mengajak agar semua fihak yang saling berselisih untuk saling memaklumi. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kaset, “kaifa nakhtalifu” (bagaimana kita berselisih?). Dikatakan di dalamnya : “Seyogyanya kita berlapang dada di dalam menghadapi perbedaan, hendaknya kita juga mau mendengarkan semua pendapat, serta janganlah kita bersikap keras terhadap orang-orang yang menyelisihi kita.” Kemudian dia menukilkan perkataan para ulama salaf tentang bagaimana menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi diantara para ulama dan imam yang empat. Setelah itu dia membawa perkataan-perkataan tersebut dan dipakai untuk menentukan sikap terhadap perselisihan yang terjadi antara ahlus sunnah dengan ahlil bid’ah.
Ini adalah perkataan yang sangat berbahaya yang terkandung di dalam buku “kaifa Nakhtalif”. Dan ini dibagi-bagikan dalam bentuk kaset dan buku dengan cetakan yang paling lux. Inilah upaya membangun pondasi pikiran-pikiran ini, yaitu pondasi untuk membangun bid’ah-bid’ah dan kesesatan. Fenomena ini amat jelas ketika seorang pemula dari penuntut ilmu membaca buku tersebut, pasti bisa mengetahui kesesatan yang terkandung di dalamnya.

Saya merasa heran, bagaimana perkara seperti ini bisa tidak tampak bagi para senior penuntut ilmu dan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ahlus sunnah? Bagaimana kebenaran seperti ini bisa tersembunyi di hadapan mereka?

Maka dari itu, kami tekankan terus menerus bahwa ketika kita berbicara dan mengajak bicara ahlus sunnah, kita menggunakan cara berkomunikasi tersendiri. Kami katakan kepada mereka : “bersatulah kalian di atas kebenaran dan tinggalkanlah perselisihan yang memecah belah kalian, karena kalian semua adalah ahlus sunnah.” Akan tetapi apabila kita menghadapi perselisihan antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah, maka perselisihan seperti ini bentuknya berbeda. Sehingga terus menerus kita tekankan, bahwa dalam kita berbicara dan menerapkan berbagai hukum dalam permasalahan, haruslah jelas dan sesuai dengan ketetapan nash-nash. Kita tidak mungkin membawa perkataan para ulama salaf tentang cinta kasih diantara mereka : “Kita berselisih dan berbeda pendapat, akan tetapi perbedaan kita ini tidak boleh menggambarkan perpecahan diantara kita.” Kemudian kita aplikasikan perkataan para ulama salaf ini di dalam perselisihan antara ahlus sunnah dengan Rofidhoh.
Bukti yang terpenting adalah, bahwa di dalam banyak perkataan mereka yang amat menyimpang, meskipun dengan adil kita katakan, bahwa derajat penyimpangan individu-individu ini tidak dalam satu tingkatan. Akan tetapi yang terpenting adalah, kita waspada terhadap manhaj dan metode mereka, serta menjauhi syubhta-syubhat kemudian kembali kepada perkataan para ulama yang kita kenal keselamatan aqidah dan manhajnya dari penyimpangan. Inilah prinsip dasar menurut ahlus sunnah.

[Sumber : Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H.]

1. Bukti-buktinya telah dibahas panjang lebar di Majalah adz-Dzakhiirah edisi 12 tahun II 1425 dengan tema “Menyingkap Hakekat dan Jati Diri Da’i-Da’i Kondang”, demikian pula di Majalah Al-Furqon (Ma’had Al-Furqon Gresik), edisi 1 tahun V, Sya’ban 1426 H. Dengan tema “Penyimpangan Aidh al-Qorni”, silakan membuktikannya.
2. Tentang kedua orang ini, sialkan membaca kembali majalah adz-Dzakhiirah edisi 24 pada tema “Khowarij Kontemporer” dan “Hakekat Yang Tersembunyi.” Artikel ini dapat dibaca dihttp://www.almanhaj.or.id/.
3. Maka tidaklah mengherankan apabila ada kisah yang menyebutkan bahwa DR. Safar Hawali lulusan fakultas aqidah, pernah menulis bantahan kepada Asy’ariyah. Tetapi sekarang ia tidak mau bukunya itu dicetak kembali, bahkan ia terjerumus dalam ilmu nujum, sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul Malik dalam bukunya “Khurofat Haroki”. Pent.
4. Dengan segudang bukti saja, para pengagumnya banyak yang tidak bisa menerima, apalagi tanpa bukti!!!
5. Sekarang ini banyak sekali dai’dai yang terkadang mengaku salafi jika merasa butuh, dan di lain waktu mengingkari penisbatan kepada salaf jika bertentangan dengan manhaj haroki mereka. Ketika ditanya tentang hukum suatu amalan, harokah atau pergerakan yang jelas-jelas bid’ah, mereka menjawab dengan jawaban yang samar dan berputar-putar. Maka inilah salah satu indikasi dai-dai yang terpengaruh dengan pemikiran Salmad, Aidah al-Qorni, dkk.
6. Karena pendapat yang mereka lontarkan seperti ini, lebih dekat kepada hanya sekedar sensasi dan berani tampil beda, serta berseberangan dengan penguasa muslim, bukan karena dalil seperti yang dilakukan oleh para ulama.
7. Rofidhoh adalah salah satu kelompok Syiah ekstrim yang menolak kekhilafahan Abu Bakar dan ‘Umar beserta mayoritas sahabat Nabi. Bahkan tokoh mereka di abad ini, yaitu Khomeini, memiliki doa kejelekan yang khusus untuk dua berhala Quraiys, (dan yang ia maksudkan adalah), Abu Bakar dan ‘Umar yang isinya penuh dengan celaan dan laknat. Lihat Firoq al-Mu’ashiroh jilid 1.
8. Padahal menurut informasi yang kami terima, bahwa syi’ahnya Iraq lebih ekstrem, ganas dan kejam apabila dibandingkan dengan syiahnya Iran.

Mei 21, 2011

Riwayat Ringkas Para Imam Ahlus Sunnah

Filed under: Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 12:16 pm

Penulis : Abu Syakir
Penerbit : Jahabersa, Johor Bharu (2004)
148 halaman

Naskah ini memuat biografi ringkas 15 sarjana hadis. Sebahagiannya cukup dikenali seperti penyusun kitab hadis yang enam. Namun ada juga beberapa sarjana yang masih belum dikenali dengan lebih dekat. Antaranya ialah Imam Thurthusi, al-Allamah Syeikh Humud At-Tuwaijiri, al-Ajurri dan Syeikh al-Allamah Hafidz bin Ahmad al-Hakami.

1. Imam Bukhari
2. Imam Mulism
3. Imam An-Nasa’i
4. Imam Abu Dawud
5. Imam Nawawi
6. Imam Abu Syuja’
7. Izuddin Abdul Salam
8. Imam Syan’ani
9. Imam Tirmidzi
10. Imam Thurthusi
11. Imam al-Ajurri
12. Imam Asy-Syaukani
13. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab
14. Syeikh Ahmad Syakir
15. Al-Allamah Syeikh Humud At-Tuwaijiri
16. Syeikh al-Allamah Hafiz bin Ahmad al-Hakami

Semua sarjana dan intelektual yang diceritakan merupakan imam ahlus sunnah, dan tokoh pembela sunnah Nabi.

Banyak manfaat dan faedah yang dapat diambil dari kisah riwayat hidup, perjalanan mencari ilmu dan rintangan dalam berdakwah.

Saya punya beberapa masalah untuk mendulang manfaat secara maksimum dari naskah ini :

- Bab tidak disusun dengan struktur yang baik. Susunan biografi sarjana hadis culang-caling. Contohnya meletakkan Ibnu Rejab selepas Imam Syaukani, padahal Ibnu Rajab hidup zaman lebih awal dari Imam Syaukani.
- Saya juga mengesan satu kesalahan fakta yang sangat tidak wajarl. Pengarang menyatakan Imam Shan’ani (pengarang kitab Subulus Salam) terkesan dengan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Padahal Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir selepas zaman Imam Shan’ani.
- Struktur setiap bab dan tokoh yang ditampilkan tidak konsisten. Seperti ‘copy & paste’.

Mei 17, 2011

Biografi Ulama Sunnah India

Filed under: Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 4:45 am

Biografi Ulama Sunnah India
Penulis : Muhammad Abdullah Suradi (tamanulama.blogspot.com)
Penerbit : Jahabersa, Johor Bharu (2011)
127 halaman

Satu dari buku yang saya suka kumpul ialah biografi tokoh dan sarjana Islam. Membaca kisah-kisah mereka memberi inspirasi.

Benua India pernah dikenali pernah melahirkan sarjana hadis tersohor. Naskah kecil ini memuat biografi ringkas 8 sarjana dan intelektual hadis dari benua India.

1. Siddiq Hasan Khan
2. Maulana Muhammad Ilyas al-Kandahlawi
3. Maulana Muhammad Zakariya al-Kandahlawi
4. Maulana Muhammad Yusuf al-Kandahlawi
5. Maulana Sayid Abul Hasan Ali An-Nadwi
6. Syeikh Badiuddin As-Sindi
7. Syeikh Dr. Ihsan Ilahi Zahir
8. Syaikh Syafiurrahman al-Mubarakfuri

Beberapa darinya dikenali seperti Sayid Abul Hasan Ali An-Nadwi. Karya beliau “Apa Kerugian Dunia Dengan Mundurnya Islam” yang fenomenal memperkenalkan beliau kepada dunia Islam. Banyak buku-buku beliau diterjemah dan diterbitkan dalam bahasa Melayu.

Yang baru saya kenal melalui buku ini ialah Syeikh Badiuddin As-Sindi. Yang mengujakan ialah beliau dikatakan menjadi guru kepada banyak sarjana sunnah kontemporari seperti Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wad’ie, Syeikh Dr Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, Syeikh Salim Eid al-Hilali dan Syeikh Ali Hasan al-Halabi.

Saya masih belum ‘berkenalan’ dengan Syeikh Dr Ihsan Ilahi Zahir, sehingga saya membaca buku ini. Beliau bersama saudara kandungnya Dr Fadhl Ilahi merupakan anak murid sarjana hadis terkenal Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani rahimahullah.

Sesuatu yang sadis mengenai beliau ialah, beliau mati dibom ketika menghadiri satu seminar di Pakistan. Dilaporkan 18 orang ilmuwan yang hadir dalam majlis itu terbunuh angkara puak Syiah yang merasa terancam dengan dakwah ahli hadis.

Beliau menerima penghormatan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz yang sudi mengimamkan solat jenazahnya.

Manakala Maulana Ilyas, Maulana Zakaria dan Maulana Yusuf al-Kandahlawi sangat dikenali oleh orang-orang jemaah tabligh. Pun begitu adalah sangat perlu diberi catatan bahawa 3 tokoh ini bersama jemaah tabligh yang mereke pimpin menerima kritikan dan koreksi dari sarjana Islam yang lain. Bahkan Maulana Zakaria rahimahullah menitipkan tidak sedikit hadis yang tidak sahih bahkan palsu ke dalam kitab keramatnya (di sisi jemaah tabligh) Fadhail Amal.

Selain kitab Fadail Amal, Maulana Zakaria juga banyak mengarang kitab-kitab lain dalam disiplin hadis. Antaranya ialah Lami’a-Dirari ‘ala Jami’ al-Bkuhari dan Syarah Sahih Bukhari. Dari deretan judul kitab-kitab yang beliau tulis, tidak dinafikan beliau seorang ahli ilmu yang benar-benar menguasai ilmu terutama ilmu hadis. Namun sayangnya beliau akan mendahulukan pendapat mazhabnya dan tarikat sufi apabila bertembung dengan hadis yang sahih.

Syeikh Zakaria adalah seorang ulama hadith yang dikenali. Sama seperi Zahid al kauthari, Syeikh Abdul Fattah Abdul Guddah dan beberapa ulama lainnya; mereka memang dikenal sebagai orang yang alim.

Tetapi seperti yang disebutkan tadi, tetapi mereka terlencong dari dasar ilmu mereka apabila mereka berhadapan dengan mazhab mereka. Lihat kitab “Bahaya Mengingkari Sunnah”, Shalahuddin Maqbul Ahmad, Pustaka Azzam.

Ulama sunnah tidak pernah menafikan keilmuan Syeikh Zakariya dan ulama sunnah juga tidak dapat menutup kebid’ahan dan kekhurafatan yang ada dalam karangan dan jemaah beliau .

Baca lagi fatwa-fatwa ulama’ kibar (ulama’ besar) tentang Jemaah Tabligh di al-manhaj : http://almanhaj.or.id/?keyword=jamaah+tabligh

April 21, 2011

Imam Syafi’i dan Mazhab Syafi’i

Filed under: Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 12:06 am

Pengasasan dan Pengembangan Mazhab Syafie
Penulis : Muhammad Abu Zahrah
Penterjemah : Dr Kassim Mat Salleh
Penerbit : Yayasan Islam Terengganu (1997)
Halaman : 379 halaman

Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i
Penulis : KH Sirajuddin Abbas
Penerbit : Pustaka Aman Press (1985)
Halaman : 343 halaman

Dua buah buku ini mewakili kem penyokong kuat mazhab Syafi’i. Sebelum itu perlu diluruskan, bahawa pendiri mazhab yakni Imam Asy-Syafi’i dan mazhab yang disandarkan kepada beliau merupakan dua entiti yang berbeza. Tidak sedikit amalan yang disandarkan kepada mazhab Syafi’i, namun Imam Asy-Syafi’i rahimahullah sendiri berlepas diri darinya.

Justeru membaca dan mengkaji dua naskah ini dapat memberi penjelasan tentang pola berfikir mazhab Syafi’i. Sekali lagi memahami pola berfikir mazhab Syafi’i, dan tidak semestinya ia bertepatan dengan apa yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i. Untuk memahami secara tepat dan lurus susuk tubuh Imam Syafi’i dan pola pemikirannya, tentu cara yang paling benar ialah mengkaji buku-buku tulisan beliau seperti Al-Umm, Ar-Risalah dan yang lain. Atau setidak-tidaknya mengkaji karya anak-anak muridnya yang utama seperti Imam al-Humaidi, al-Muzani, al-Buwaiti dan tidak terlepas juga ialah ulama yang paling menonjol dalam mazhab Syafi’i, yakni Imam Nawawi rahimahullah.

Buku yang kedua karangan KH Sirajuddin Abbas yang penuh kontroversi akan serangan beliau terhadap kelompoh ahlus sunnah dan tokohnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dalam bukunya Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah : baca penjelasan).

Baca lagi

Judul bukunya sahaja sudah menampakkan sikap berlebihan dan fatanik terhadap tokoh dan mazhab tertentu. Dan sikap ini sangat jelas bersalahan dengan sikap Imam Asy-Syafi’i sendiri. Bahkan beliau, Imam Syafi’i melarang pengikut-pengikutnya bertaklid buta terhadapnya. Pesan beliau yang paling utama ialah tetap berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah sehingga diberi gelaran Nashir Sunnah.

April 13, 2011

Biodata Ustaz Rasul bin Dahri

Filed under: Dakwah,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 3:49 am

Biodata Ustaz Rasul Bin Dahri

Nama penuh Ustaz Rasul ialah Rasul Bin Dahri bin Saem bin Mohsen. Ayahnya berketurunan Bugis dilahirkan di Indonesia dan ibunya berketurunan Cina lahir di Muar, Johor.

Ustaz Rasul bin Dahri dilahirkan di Singapura pada 27 Mei 1953. Beliau masih memegang kewarganegaraan Singapura, menetap di Johor Bahru, Malaysia. Dianugerahkan empat belas orang anak dan isterinya berwarganegara Malaysia dan semua mereka menetap di Malaysia.

Beliau seorang pengusaha dan peniaga selain pendakwah bebas yang berdakwah di seluruh Malaysia, Singapura, Thailand dan Indonesia. Menyebarkan dakwahnya melalui ceramah, kuliah, tulisan, kaset, cd, vcd atau internet.

Pendidikan

Bekas penuntut Madrasah al-Juned al-Islamiyah Singapura. Melanjutkan pengajian ke Madrasah al-Masyhur al-Islamiyah Pulau Pinang, Malaysia dan kemudian menyambung pengajiannya ke Ma’had al-Haram, Mekah al-Mukarramah. Belajar Bahasa Arab di Universiti King Abdul Aziz, Arab Saudi dan menuntut di Universiti Ummul Qura dalam bidang Syariah, Dakwah & Usuluddin. Beliau berada di Mekah, Arab Saudi selama sebelas tahun dari 1973 hingga tahun 1984.

Guru-Guru

Semasa di Mekah, beliau sempat bersama Syeikh Muhaddis Abu Abdirrahman Mukbil bin Hadi al-Wad’ie rahimahullah di Universiti Ummul Qura’. Sempat juga bergutu dengan beberapa orang syeikh semasa mengunjungi (berada) di Mekah, iaitu sekitar musim Haji atau bulan Ramadan. Antara syeikh-syeikh yang sempat didampingi ialah as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan as-Syeikh Soleh Fauzan al-Fauzan hafizhullah.

Semasa di mekah beliau telah menimba ilmu dan bertalaqqi dari beberapa masyaeikh, antaranya ialah Syeikh Ahmad al-Mandili, Syeikh Yahya hafizahullah (dalam ilmu sanad, rawi dan jarh wa ta’dil), dan mempelajari ilmu-ilmu tafsir, hadis, fiqh, usul fiqh dan ilmu-ilmu lain antaranya dari Syeikh Syaid Sabiq rahimahullah, Syeikh Muhammad al-Ghazali rahimahullah, Muhammad Quthb hafizahullah, Syeikh Hasan al-Habannaka al-Maidani, Syeikh Tantawi (penceramah radio Mekah) rahimahullah, Syeikh Mujahid as-Sawwaf rahimahullah dan asy-Syeikh Abdurrahman al-Yamani rahimahullah.

Alhamdulilah diberi kesempatan juga oleh Allah Azza wa Jalla menghadiri kuliah-kuliah asy-Syeikh al-Muhaddis Muhammad Nasiruddin al-Albani rahimahullah dan asy-Syeikh Muhammad bin Soleh al-Uthaimin rahimahullah di musim Haji dan di bulan Ramadan.

Semoga semua para masyaeikh (syeikh-syeikh) semasa belajar di Mekah al-Mukarramah (Arab Saudi), guru-guru di Singapura semasa belajar di Madrasah al-Juned al-Islamiyah dan guru-guru di Madrasah al-Masyhur semasa belajar di Pulau Pinang, Malaysia dimohonkan oleh Allah anugerah syurga Firdaus dan semoga mereka semua sentiasa di dalam rahmat Allah serta diluaskan kubur mereka bagi mereka yang telah pulang ke rahmatullah.

Hanya kepada Allah sahaja kita memohon semoga Dia sentiasa memelihara keberkatan ilmu yang telah dianugerahkan kepada hamba-Nya dan pahala serta keampunan kepada mereka yang menyampaikan ilmu-ilmu mereka dengan penuh keikhlasan. Amin Ya Rabbil ‘alamin.

April 8, 2011

Ustaz Abdullah al-Qari Haji Salleh (AQHAS)

Filed under: Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 2:46 am

BIODATA USTAZ ‘ABDULLAH AL-QARI HAJI SALLEH

Pengenalan

‘Abdullah Al-Qari ialah Guru Kreatif (1994), Tokoh Agama (Tokoh Hijrah Ar-Rasuul 2004)dan Tokoh Maulid Ar-Rasuul 2005), Pujangga Islam (2005) yang melahirkanbanyak dan berbagai karya berunsur Islam juga Tokoh Sunnah Nusantara (2005) yang melahirkan buku-buku berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, salah seorang penggerak Sunnah Nabi SAW, pemurni (reformis) Islam menerusi buku di mana B u ku Guru Zaman.

Jika Hasaan B. Thaabit Al-Anshaari r. a. dikenal sebagai Penyair Nabi SAW, maka Abdullah Al-Qari tersohor Penulis Tuk Kenali dengan berbagai karya menarik.

Kelahiran

Beliau lahir pada pagi Ahad 23 Dzu Al-Qa’idah 1356 H. bersamaan 26 Disember 1937 M. diberi nama ‘Abdullah Al-Qari (Pembaca terutama Al-Qur’an) oleh anak saudara Tuk Kenali, Tuan Guru Hi.Muhammad Jebeng, empat tahun sesudah perginya Hj. Salleh tepi Jalan Kenali. Kenali, di Lot 1203 Kenali, Jalan Puteh, tidak jauh dari Maqam Tuk Kenali.

Pendidikan

Beliau dibesarkan dalam Pendidikan Islam, di mana bapanya Hj. Salleh B. Puteh (Ab.Latif) seorang Guru Al-Qur’an di Pondok Kenali, murid tua Tuk Kenali; demikian juga ibunya Hjh. Khadijah Bt. Abdullah, keluarga Tuk Kenali, mengajar Al-Qur’an kepada kanak-kanak di sebelah dapur rumahnya. Lokasi rumah di tepi Pondok Lorong Kubur Tuk Kenali menyebabkan beliau banyak dipengaruhi Pendidikan Pondok di samping Pendidikan Sekolah Melayu Kubang Kerian, Kota Bharu (1946-1951).
Bakat

‘Abdullah Al-Qari mula berminat membaca buku-buku serba bidang sejak di Darjah Lima Sekolah Rendah dengan membaca buku-buku Indonesia yang dipinjam daripad Gurunya, Cikgu Muhammad B. Abdullah dan buku-buku di bilik bacaan di sekolah termasuk buku Sains. Bakat beliau terserlah dikesan oleh gurunya, Cikgu Mahmud B. ‘Abbas semasa beliau di Darjah Tujuh (Sekolah Menengah Melayu Tuk Pasir Pertama di Kelantan) di Sekolah Melayu Kota (Jelasin) – 1952 yang memuji dan tertarik kepada hasil karangannya di peringkat sekolah. Beliau memperoleh Sijil Pangkat Satu bagi kedua sekolah tersebut.

Mendalami Islam

Beliau memasuki Pondok MadrasahAl-Ahmadiyyah Bunut Payung (1952) belajar pada Tuan Guru Hj. AbdullahTahir B. Hj. Ahmad akan Tafsir Al-Qur’an dan pada Ustadz Hj. Ab. Rahman Al-Khudhri B. Ibrahim akan Al-Hadith. Gurunya yang berasal dari Pahang ini memberi galakan menulis di bidang Agama. Mula membaca majalah-majalah Agama dengan cara meminjam dan cuba menulis. Pada sebelah pagi beliau belajar di Darjah Tujuh.

Awal 1953 beliau dilantik menjadi guru dalam usia 15 tahun dan bercanggah dengan hasratnya untuk menyambung pelajaran di Jaami’ Merbau, K.Bharu (sempat belajar sehari). Pada suatu malam, beliau bermimpi berhadapan dengan wajah Nabi SAW yang bersabda, “Anta belajarlah Islam!”

Beliau mula membeli kitab-kitab Arab dengan cara belajar sendiri dan berguru kepada murid-murid Tuk Kenali dan murid Tuk Khurasan (Ahli Hadith) dengan mempelajari Hadith,Ilmu Ushuul At-Tafsir, Ushuul Al-Fiqh dan lain-lain. Ya, dalam usia 15 tahun ini beliau mula menjadi guru, pengarang, penerbit (Pustaka ASA) dan pengedar. Kerja seharian beliau ialah mengajar dan mengarang buku sambil belajar Agama. Bila sesuatu tajuk sudah difahami dengan baik, maka dia dijadikan buku dan disebarkan.

Peningkatan llmu

Beliau berjaya memperoleh Sijil Kursus Persekolahan Melayu (T.U.O.S. : Perguruan – 1956) , Sijil Maktab Perguruan Bahasa ‘. Language Institute – 1959),SPM (1962); STP (penuh – 1974);juga Sijil Pra LINAS (Universitas Nasional Jakarta: Kuliah Bahasa dan Sastera- 1974) dan kelayakan masuk ke Pusat Pengajian Tinggi Islam Nilam Puri (Kuliah Usuluddin – 1974; seterusnya memasuki Universiti Malaya (1974-1977) dengan pencapaian Sarjana Muda Pengajian Islam dengan Kepujian dan anugerah Mahasiswa Terbaik.

Demi mematuhi arahan Nabi SAW tadi, maka sejak umur 15 tahun mula mempelajari dan mengkaji Islam serta menulisnya menjadi buku-buku bernilai sehingga masih kini (berusia lebih 70 tahun) berjaya menghasilkan lebih 300 karya sendiri dan terjemahan dalam berbagai bidang pengajian Islam, perubatan, umum, bahasa dan sastera; juga sajak berunsur Islam dalam bentuk buku biasa, kamus dan ensiklopedia.
Kerana kegiatan yang agak luar biasa ini, maka penulis telah dianugerahkan:

1. Tokoh Guru Kreatif (Penulisan) Kelantan, 1990.
2. Tokoh Buku Kelantan,1994.
3. Tokoh Hijrah Ar-Rasuul Kelantan,2004.
4. Tokoh Guru Kelantan (JPN), 2004.
5. Tokoh Maulid Ar-Rasuul, Malaysia, 2005.
6. Tokoh Sunnah (I.Q.), Nusantara, 2005.
7. Tokoh Penulis Buku Islam, Malaysia,2007.
8. Tokoh Penulis Islam Terbaik, Serambi Mekah, 2008.
9. Tokoh pengkajian Al-Qur’an dan Al-Hadith (SIQAH),Nusantara, 2008.

Isteri beliau menerima anugerah “Tokoh Ibu Shaalihah Kelantan” (2005): Hjh. ‘Aisyah Bt. Hj.Ibrahim.

‘Abdullah Al-Qari telah berjaya mendirikan Masjid As-Sunnah dan Sekolah Rendah Islam (SRI) Al-Qari di Taman Al-Qari; juga “Pusat Kajian dan Sebaran Al- Qur’an dan As-Sunnah Nusantara” bertempat di Tingkat Satu Masjid As-Sunnah, Taman Al-Qari Istana Negeri Kelantan, Kubang Kerian berhadapan Istana Negeri Kelantan, Kubang Kerian.

Senarai buku tulisan dan terjemahan beliau di sini.

disalin dari kertas kerja Seminar Pencinta Buku 2010 anjuran Institus Terjemahan Negara Malaysia, Kuala Lumpur.

Mac 23, 2011

Ulama Muda, Syaikh Abdul Salam bin Barjas

Filed under: Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 6:37 am

Beliau ialah Syeikh Abdus Salam bin Barjas bin Nasir Aali Abdil Karim. Lahir di Riyadh tahun 1387 H.

Seorang ahli hadis muda dari Arab Saudi, yang dikatakan oleh para ulama, “Tingkat keilmuannya melebihi umurnya”.

Beliau ialah qadi (hakim) di Riyadh dan juga imam masjid dan memiliki halaqah ilmu di tempat beliau jum’atan sehari sebelumnya.

Guru-guru Syeikh Abdus Salam di antaranya ialah Syeikh Abdul Aziz bn Baz, Syeikh Shaleh ibn Utsaimin, Syeikh ibn Jibrin, Syeikh Muhadis Abdullah ibn Duwaisi, Syeikh Shalih ibn Abdurrahman Al-Athram, Syeikh Abdurahman ibn Ghudayan, Syeikh Shalih ibn Ibrahim Al-Balihi, Syeikh Abdulkarim Al-Khudairi dan lainnya.

Tulisannya lumayan banyak, baik berupa takhrij atau lainnya, yang terkenal ialah Mu’amalatul Hukkam fi Dhauil Kitab wa Sunnah yang sangat unik topiknya dan sarat dengan faedah. Beliau telah menulis buku sejak berumur 18 tahun lagi.

Beliau meninggal dunia kerana kecelakaan pada tahun 1425 H / 2004 M. Jenazahnya telah dikebumikan di Riyadh, Arab Saudi, setelah solat Asar di Masjid Abdullah, Dira pada 3 April 2004.

Menurut Abdur Rahman Al-Ghisli, rakan yang hadir di lokasi kecelakaan dan ikut menolongnya, Syeikh Abdus Salam Bin Barjas rahimahullah, mengakhiri hembusan nafasnya dengan melantunkan syahadah.

Semoga amalan baiknya diterima oleh Allah Ta’ala, diampuni dosa-dosanya dan dimudahkan jalannya menuju JannahNya. Amin ya Rabbal ‘alamin

.

dipetik dari : http://tamanulama.blogspot.com/2009/01/syei

kh-abdus-salam-bin-barjas-ulama.html

 

Catatan : Saya sedang membaca naskah ini dalam versi terje

mahan. Mudah-mudahan beroleh manfaat. Rebiu menyusul kemudian.

Buku ini sering dirujuk ketika menjelaskan tentang pemerintahan, pmerintah, ketaatan kepada pemerintah, pemberontakan dan mengkritik pemerintah.

Mac 20, 2011

Sorotan Total Ulama Salaf

Filed under: Senarai Bacaan,Tips membaca,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 4:02 am

Benarkah Nahjul Balaggah disandarkan kepada Ali bin Abi Talib? Kerana di dalamnya terdapat cacian dan makian terhadap sahabat Abu Bakar dan Umar al-Khattab. Sedangkan kita semua tahu betapa Ali mencintai Abu Bakar dan Umar sehingga menamakan anak-anaknya dengan nama mereka berdua. Semoga Allag redha kepada sahabat-sahabat Nabi.

Imam Adz-Dzahabi (semoga Allah merahmatinya) menjelaskan bahawa penulis Nahjul Balaggah ialah ahli kalam, Rafidhah (Syiah) dan Muktazilah. Ini beliau nyatakan dalam kitab beliau Mizan al-I’tidal.

Sorotan ini merupakan secubit intipati buku yang sedang dibicarakan. Sekali pandang tiada daya tarikan pada buku ini. Namun selepas dibelek dan teliti, ternyata ia termasuk dalam buku-buku yang saya cari.

Pengarang, Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Sadhan menghimpunkan komentar sarjana dan intelektual Islam terhadap lebih 40 kitab. Antara kitab yang dibicarakan selain Nahjul Balaghah ialah :

  • Ruh karangan Ibnu Qayyim al-Jawziyah
  • al-Kabair karangan Adz-Dzahabi
  • Ihya’ Ulumuddin oleh Imam Al-Ghazali
  • An-Nubuwah wal-Anbiya oleh Muhammad Ali As-Shabuni
  • Sahfwah al-Tafasir oleh Muhammad Ali As-Shabuni

Bahagian kedua pula, pengarang kitab ini menyorot beberapa kisah-kisah yang dipertikaikan kesahihannya. Ini antara yang penting lebih-lebih lagi kepada penceramah agama dan juga penulis-penulis buku agama. Dengan tidak segan silu, ramai juga penceramah dan penulis buku agama menyandarkan kisah-kisah yang tidak sahih demi menyedapkan cerita dan melariskan buku.

Antara kisah-kisah yang dipertikaikan dan sering digunakan oleh pendakwah hari ini termasuklah :

  • Alqamah derhaka kepada ibunya. Imam Ibnu Jauzi memasukkan hadis kisah ini kedalam kitab hadis palsu beliau yang berjudul, al-Maudhuat.
  • Thariq bin Ziyad membakar perahu-perahu
  • Perkataan Ali kepada Abdurrahman bin Auf  selepas Membaiat Uthman.
  • Kisah Ibnu Battutah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Termasuk juga di dalamnya kritikan terhadap kisah sejaran moden seperti :

  • Tragedi “Holocaust” yang dibakar
  • Penemuan Tanjung Harapan Oleh Vasco Da Gama

Dua bahagain lain termuat dalam buku ini ialah Tokoh-Tokoh Dalam Sorotan dan Hadis-Hadis Dalam Sorotan.

Sorotan Total Ulama Salaf ; Koreksi Terhadap Hadis-hadis, Filosof, Sasterawan, Kisah dan Kitab-kitab Popular

Judul Asal : Kutubun, Akhbarun, Rijalun, Ahadis Tahta Mijhar

Penulis : Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan

Terjemahan : Ibnu Abi

Penerbit : Pustaka As-Sunnah

Baca rebiu lagi : Indra’s Lougne

Disember 31, 2010

Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu

Filed under: Sejarah,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 2:12 am

(Rihlatuh Ulama Fi Thalabil Ilmi)

Pengarang : Abu Anas Majid al-Bankani

Penterjemah : Abu Thohir al-Padangi

Penerbit : Darul Falah, Jakarta (2009)

Membaca kisah-kisah generasi dahulu (salafus soleh) bekerja keras dan gigih menuntut ilmu dapat memberi motivasi dan terapi kepada umat masa kini.

Imam Syafi’i rahimahullah dalam satu kata-katanya yang terkenal mewasiatkan,

Wahai saudaraku, syarat untuk mendapat ilmu itu ada 6.

  1. Kecerdasan
  2. Azam yang kuat
  3. Bersungguh-sungguh
  4. Menyediakan bekal yang cukup
  5. Bimbingan guru
  6. Waktu yang yang lama

Dan satu lagi tradisi ilmuwan dan sarjana Islam ialah mengembara mencari guru untuk menuntut ilmu. Tidak ada ada ulama yang tidak pernah keluar dari kampung halamannya untuk menuntut ilmu. Sehinggakan ada ulama yang melarang seseorang dari mengambil ilmu dari orang yang tidak pernah mengembara seperti kata Yahya bin Ma’in berkata, “Ada empat golongan yang tidak bisa diambil kebaikan dan manfaat darinya….Seorang yang belajar hanya di negerinya dan tidak keluar untuk mencari hadis.”

Kisah Jabir bin Abdullah

Tradisi mengembara mencari ilmu bermula sejak zaman sahabat lagi. Salah satu kisah yang masyhur ialah perjalanan Jabir bin Abdullah, seorang sahabat muda. Beliau membeli seekor keldai dan berkelana selama sebulan menuju ke Syam semata-mata untuk mendengar sebuah hadis dari Abdullah bin Unais.

Teladan Ulama Salaf

Sikap ini diteladani oleh generasi seterusnya. Sejarah mencatatkan sarjana hadis yang menuliskan kitab hadis yang enam (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunah Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah dan Sunan An-Nasa’i) menghabiskan masa puluhan tahun mengembara dari satu negara ke satu negara demi menuntut ilmu dan mengumpulkan hadis.

Tentu sahaja mereke memperuntukkan sejumlah wang yang banyak untuk tujuan itu. Namun demi ilmu, mereka sanggup berhabis. Dilaporkan Imam Rabiah bin Abddurahman Ar-Ra’yi membelanjakan 30 ribu  dinar (bersamaan  RM 15 juta) untuk menuntut ilmu. Mungkin ramai yang masih belum mengenali siapa Rabiah Ar-Ra’yi. Beliau merupakan guru kepada Imam Malik bin Anas (pendiri mazhab Maliki).

Begitu juga dengan imam-ima yang lain. Imam Malik sebagai contohnya terpaksa menggadaikan kayu atas rumahnya untuk menampung biaya beliau menuntut ilmu.

Kos Menuntut Ilmu

Ada beberapa pengajaran yang dapat diambil dari pengalaman ulama dan sarjana dahulu mencari ilmu.

1. Antutias mereka menuntut ilmu tidak mengira usia, jarak geografi dan belanja. Mereka sanggup menghabiskan berjuta-juta ringgit untuk terus mendapatkan ilmu. Lebih-lebih lagi ketika mendalami ilmu hadis. Kata para ulama, “Jika kamu belajar hadis, kamu akan muflis” kerana besarnya biaya untuk menyelidik seluruh kitab hadis dan perawi-perawinya.

2. Semangat kental yang dimiliki oleh generasi salaf. Berbeza dengan generasi modena, walaupun dilengkapi dengan kemudahan pengangkutan yang selesa dan kelangkapan yang lebih baik seperti komputer pen dan kertas. Perlu diberi catatan, pada zaman generasi salaf jangankan mesin taip, ballpen dan kertas pun sangat sukar diperoleh. Dilaporkan kerana kemiskinan, Imam Syafi’i mencatat ilmunya pada kepingan-kepingan tulang yang dijumpainga ditempat sampah.

Laman Berikutnya »

The Rubric Theme Blog di WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.