Mari baca

September 30, 2012

Padang Bulan

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 12:00 pm

Syalimah gembira.

Karena suaminya mengatakan akan memberinya hadiah kejutan. Syalimah tak tahan

”Aih, janganlah bersenda, Pak Cik. Kita ini orang miskin. Orang miskin tak kenal kejutan”

Mereka tersenyum

”Kejutan-kejutan begitu, kebiasaan orang kaya. Orang macam kita ni? Saban hari terkejut. Datanglah ke pasar kalau Pak Cik tak percaya”

Suaminya-Zamzami-tahu benar maksud istrinya. Harga-harga selalu membuat mereka terperanjat.

”Telah lama kauminta” kata suaminya dengan lembut

Syalimah kian ingin tahu. Waktu mengantar suaminya ke pekarangan dan menyampirkan bungkus rantang bekal makanan di stang sepeda, ia bertanya lagi, Zamzami tetap tak menjawab.

”Sudah bertahun-tahun kauinginkan, baru bisa kubelikan sekarang, maaf”

Zamzami meninggalkan pekarangan, namun kembali. Ia mengatakan ingin mengajak Syalimah melihat-lihat bendungan.

”Apa Yahnong tak kan bekerja?”

Yahnong, singkatan untuk ayah bagi anak tertua mereka Enong. Kebiasaan orang Melayu menyatakan sayang pada anak tertua dengan menggabungkan nama ayah dan nama anak tertua itu.

”Sudah lama aku tak memboncengmu naik sepeda”

Bendungan itu tak jauh dari rumah mereka. Dulu dipakai Belanda untuk untuk membendung aliran anak-anak Sungai Linggang agar kapal keruk dapat beroperasi. Sampai di sana, mereka hanya diam memandangi permukaan danau yang tenang. Tak bicara, seperti mereka dulu sering bertemu di situ.

Mereka pulang. Zamzami berangkat kerja. Syalimah tak memikirkan soal kejutan itu. Karena ia bahkan lupa pernah meminta apa dari suaminya. Delapan belas tahun mereka telah berumah tangga, baru kali ini suaminya akan memberi kejutan. Semua hal, dalam keluarga mereka yang sederhana, amat gampang diduga. Penghasilan beberapa ribu rupiah mendulang timah,cukup untuk membeli beras berapa kilogram, untuk menyambung hidup beberapa hari. Semuanya dipahami Syalimah di luar kepala. Tak ada rahasia, tak ada yang tak biasa, dan tak ada harapan yang muluk-muluk. Tahu-tahu, macam bakung berbunga musim kemarau, suaminya ingin memberinya kejutan.

Syalimah dan Zamzami berjumpa waktu pengajian ketika mereka masih remaja. Zamzami yang pemalu, begitu pula Syalimah, menyimpan rasa suka diam-diam. Zamzami tak pernah berani mengatakan maksud hatinya, dan Syalimah takut menempatkan diri pada satu keadaan sehingga lelaki lugu itu dapat mendekatinya.

Namun, lirikan curi-curi di tengah keramain itu kian hari kian tak tertahankan. Zamzami mengurangi kecepatannya menambah juz mengaji, padahal ia membaca Al-quran lebih baik dari ia membaca huruf latin. Tujuannya agar makin lama dapat berada di dalam kelas yang sama dengan Syalimah. Berulang kali ditanyakannya pada ustad hal-hal yang dia sudah tahu. Dibentak bebal, dia tersenyum sambil menunduk. Sedangkan Syalimah, berpura-pura bodoh membaca tajwid, dimarahi ustad, biarlah. Maksudnya serupa dengan maksud Zamzami. Semua taktik yang merugikan diri sendiri itu, jika boleh disebut cinta, itulah cinta.

Sungguh indah, atas saran ustad-lantaran mencium gelagat yang tak beres antara dua murid mengaji yang tak tahu cara mengungkap cinta itu-mereka malah dijodohkan orang tua masing-masing.

Sejak mengenal Zamzami, Syalimah tahu ia akan bahagia hidup bersama lelaki itu, meski, ia juga mahfum, ada satu hal yang harus selalu ia hindari: minta dibelikan apapun. Sebab lelaki baik hati yang dicintainya itu hanyalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga pendulang timah. Namun Syalimah tak perlu dibelikan harta benda sebab Zamzami adalah harta yang paling berharga, melebihi segalanya. Lelaki itu amat penyanyang pada keluarga, sehingga Syalimah tak memerlukan harta apapun lagi di dunia ini.

Menjelang tengah hari, sebuah mobil pikup berhenti di depan rumah. Dua lelaki mengangkat benda yang dibungkus dengan terpal dari bak mobil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Syalimah bertanya-tanya. Mereka tak mau menjawab.

”Malam ini ada pasar malam di Manggar, Mak Cik” kata salah satu lelaki itu sambil tersenyum.

Syalimah memandangi benda itu dengan gugup tapi gembira. Pasti benda itu yang dimaksud suaminya dengan kejutan. Rupanya sungguh luar biasa pengaruh sebuah kejutan. Sekarang ia paham mengapa orang-orang kaya menyukai kejutan. Kucing-kucingnya yang lucu melingkari benda itu, menggodanya untuk mendekat. Syalimah melangkah maju, namun di tengah jalan, ia ragu. Ia kembali ke ambang pintu.

Syalimah menertawakan kelakuannya sendiri karena keranjingan menikmati sensasi sebuah kejutan. Lalu ia berpikir, kejutan itu tak sanggup ia atasi dan terlalu indah untuk ia nikmati sendiri. Ia akan menunggu Enong, putri tertuanya itu, pulang dari ekolah. Mereka akan menikmati kejutan itu berdua. Tentu akan sangat menyenangkan.

Namun Syalimah tak tahan untuk segera tahu apa yang dibelikan suaminya untuknya, sedangkan Enong baru akan pulang sore nanti. Sesekali ia melongok ke arah benda yang misterius itu. Ia memberanikan diri dan melangkah pelan mendekatinya. Di depan benda itu jantungnya berdebar-debar. Ia memejamkan mata dan menarik terpal. Ia membuka matanya dan terkejut tak kepalang melihat sesuatu berkilauan: sepeda Sim King made in RRC!

Syalimah terhenyak. Ia tak menyangka sepeda itu dihadiahkan Zamzami untuknya sebagai kejutan. Bukan hanya karena sepeda itu akan menjadi benda paling mahal di rumah mereka, namun karena ia memintanya hampir empat tahun silam. Itupun sesungguhnya bukan meminta. Waktu mengandung anak bungsunya, ia berkisah pada Zamzami, betapa dulu ia bahagia sering dibonceng almarhum ayahnya naik sepeda ke pasar malam, dan di sana dibelikan balon gas.

”Kalau anak ini lahir” kata Syalimah sambil bercanda

”Sepeda kita tak cukup lagi untuk membonceng anak-anak ke pasar malam” karena

anak mereka akan menjadi empat sedangkan mereka hanya punya dua sepeda reot.

Syalimah tak dapat menahan air matanya. Ia terharu mengenang suaminya telah menyimpan percakapan itu selama bertahun-tahun dan memegangnya sebagai sebuah permintaan. Betapa baik hati lelaki itu. Lalu Syalimah terisak begitu ingat bahwa hari itu hari Sabtu dan malam nanti ada pasar malam di Manggar. Kini ia paham maksud lelaki yang mengantarkan sepeda itu. Suaminya pasti merencanakan berangkat sekeluarga naik sepeda ke pasar malam. Seperti dulu ayah Syalimah selalu memboncengnya naik sepeda ke pasar malam.

Selanjutnya Syalimah hilir mudik di dapur menghitung bagaimana membagi anak-anaknya pada tiga sepeda. Sang ayah, satu-satunya lelaki di dalam keluarga, berarti yang paling kuat, akan membonceng keranjang pempang dan di dalamnya akan dimasukkan si nomor dua, gadis kecil yang bongsor itu.

Si nomor tiga, yang cerewet, akan dibonceng oleh kakanya Enong, dan si bungsu akan dibonceng ibu, naik sepeda baru Sim King made in RRC, hadiah kejutan itu. Tak terperikan bahagianya perjalanan ke pasar malam itu nanti. Meski telah menetapkan pengaturan pembagian sepeda, Syalimah berulang kali menghitungnya di dalam hati. Karena perhitungan itu menimbulkan perasaan indah dalam hatinya.

Kemudian Syalimah tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia berdiri di ambang jendela, tak lepas memandangi langit yang mendung dan ujung jalan yang kosong. Ia ingin segera melihat suaminya berbelok di pertigaan di ujung jalan sana, pulang menuju rumah. Ia akan menyongsongnya di pekarangan dan mengatakan betapa indahnya sebuah kejutan. Ia mau mengatakan pula bahwa mulai saat itu mereka harus lebih sering memberi kejutan. Karena kejutan ternyata indah.

Syalimah gembira melihat seseorang bersepeda dengan cepat. Jika orang itu-Sirun-telah pulang, pasti suaminya segera pula pulang. Namun Sirun berbelok menuju rumah Syalimah dengan tergesa-gesa. Buruh kasar itu langsung masuk dan dengan gemetar mengatakan telah terjadi kecelakaan. Zamzami tertimbun tanah. Syalimah terpaku di tempatnya berdiri. Nafasnya tercekat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sirun memintanya menitipkan anak-anaknya kepada tetangga dan mengajaknya ikut ke tambang.

Sampai di sana, Syalimah mendengar orang berteriak-teriak panik dan menggunakan alat apa saja untuk menggali tanah yang menimbun Zamzami. Para penambang yang tak punya cangkul menggali dengan tangannya, secepat-cepatnya. Syalimah berlari dan bergabung dengan mereka. Ia menggali tanah dengan tangannya sambil tersedak-sedak memanggil-manggil suaminya. Keadaan menjadi semakin sulit karena hujan turun. Tanah yang menimbun Zamzami berubah menjadi lumpur. Para penambang berebut dengan waktu. Jika terlambat, Zamzami pasti tak tertolong dan Zamzami mulai memasuki saat-saat tak tertolong itu. Syalimah menggali seperti orang lupa diri sambil menangis, sampai berdarah ujung-ujung jarinya. Ia berdoa agar Zamzami tertimbun dalam keadaan tertelungkup. Penambang yang tertimbun dalam keadaan terlentang tak pernah dapat diselamatkan. Galian semakin dalam, Zamzami belum tampak juga. Tiba-tiba Syalimah melihat sesuatu. Ia menjerit

”Ini tangannya! Ini tangannya!”

Orang-orang menghambur ke arah tangan itu. Syalimah gemetar karena tangan yang menjulur itu terbuka. Suaminya telah tertimbun dalam keadaan terlentang. Para penambang cepat-cepat menarik Zamzami. Ketika berhasil ditarik, lelaki kurus itu tampak seperti tak bertulang. Tubuhnya telah patah. Pakaiannya compang-camping menyedihkan. Zamzami diam tak bergerak. Semuanya telah terlambat.

Syalimah tersedu-sedan. Ia bersimpuh di samping Zamzami yang telah mati. Ia mengangkat kepala suaminya ke atas pangkuannya. Kepala itu terkulai seperti ingin bersandar. Syalimah membasuh wajah Zamzami dengan air hujan, lalu tampak seraut wajah yang pias dan sepasang mata yang lugu. Syalimah mendekap lelaki penyayang itu kuat-kuat. Ia meratap-ratap memanggil-manggil suaminya.

Sumber: http://andrea-hirata.com/2010/07/11/mozaik-1-padang-bulan/

Disember 20, 2009

Memupuk Bakat dan Minat Penulisan Kreatif

Filed under: Kreatif,Pendidikan,Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 6:49 pm
Tags: ,

Penulis : Dr. Fatimah Busu
Penerbit : PTS Publication & Distributor
M/surat : 244
Harga : RN 22.00
Tahun Terbit : 2003

Ini kali kedua saya menulis ulasan buku ini. Kerana tulisan pertama saya terpadam tanpa sempat diselamatkan setelah kawan saya memformat komputernya. Alahai kisah.

Saya tak kenal siapa wanita Fatimah binti Busu sebelum membaca buku ini. Faktor yang mendorong saya memilih buku ini adalah kerana penulisnya ialah seorang wanita dengan gelaran Dr. Juga kerana kerana judlunya yang nampak akademik dan memberi harapan. Sebelum apa-apa kesimpula yang saya nak buat ialah buku ini mungkin boleh dikatakan mampu memupuk bakat dan bukannya minat dalam penulisan kreatif. banyak teori dan sedikit proses. Apapun jujurnya buku ini masih dalam kategori yang baik memandangkan tuisan sebegini amat kurang dalam bahasa melayu.

Menurut Dr. Fatimah Busu buku ini ditulis dalam tahun 1982 lagi dan kemudian dijadikan tesisnya. Dan yang perlu dicatatkan disini ketika buku ini ditulis saya mungkin belum lahir lagi ataupun sedang dilahirkan.

Antara beberapa bahagian sub topik yang saya kira perlu saya catitkan disini antaranya ialah sumber dan bahan inspirasi, teknik penulisan, stail penyampaian, plot, latar, nada dan mengenal fiksyen. Saya suka bahagian terakhir. Dalam bahagian mengenal fiksyen, Dr. Fatimah Busu sempat titipkan secara ringkas mengenai karya-karya yang bagus-bagus.

Saya sempat mencatat beberapa karya yang disebut dalam buku ini. Antara yang sempat saya ingat dan kerap kali disebut oleh Dr. Fatimah ialah Iakah Salamah : Ahmad Rashid Talu, Anak Mat Lela Gila : Ishak Haji Muhamad, Hari-hari Terakhir Seorang Seniman : Dr. Anwar Ridhwan, Salina, Langit Petang : A. Samad Said, juga beberapa karya sasterawan kegemaran saya, Tunggul-tunggul Gerigis : Shahon Ahmad dan banyak lagi.

Saya puas membaca buku ini. Saya berazam untuk membaca lebih banyak karya kreatif. Saya hendak cari novel-novel dari Indonesia terutamanya Iwan Simatupang dan akan menghabiskan membaca novel Atheis (juga disebut dalam buku ini ).

Akhirnya, banyak benda yang saya pelajari (secara teori) dalam buku ini. Sukar untuk saya praktiskan semuanya seklaigus. Apapun saya akan berusaha untuk belajar dan belajar lagi untuk memperbaiki mutu tulisan saya.

(dipindahkan dari catatan blog lama saya tahun 2007)

Disember 19, 2009

Di Bawah Lindungan Kaabah

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 7:46 am

Penulis : Hamka

Penerbit : Pustaka Dini

Buku ini sebuah karya kecil Hamka (dari segi saiz) akan tetapi tidak kecil jiwa di dalamnya. Pada saya ini bukan karya Hamka akan tetapi sekadar catatan. Pun begitu jiwa dan nilainya tetap besar.

Kali pertama saya beli sebagai hadiah hari lahir seorang kenalan. Kali kedua saya beli baru milik saya. Kepingin sekali saya nak khatam dan hadam karya-karya tulisan Bung Hamka yang lain.

Novel ini merupakan kisah yang diceritakan semula. Kisah pengalaman hidup seorang pemuda yang bercerita kepada penulis. Seorang anak muda yang dibiaya oleh seorang hartawan hingga keperingkat universiti. Akhirnya jatuh cinta dengan anak hartawan tersebut. Namun takdir menentukan gadis yang selama ini terasa seperti darah daging sendiri, bukan jodohnya.

Kisah cinta yang dilakarkan dalam novel ini mengingatkan saya kepada sebuah lagi karya bung hamka ; Tenggelamnya Kapa E Van Der Wicjk. Karya bung hamka lain yang sempat saya khatamkan ialah Kenang-Kenangan Hidup dan Dari Lembah Kehidupan. Pada saya karya Bung Hamka kaya dengan filsafat.

Disember 18, 2009

Bahasa dan Alam Pemikiran Melayu

Filed under: Kreatif,Pendidikan,Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 6:46 pm
Tags:

Penulis : Asmah Hj Omar (Prof Emiritus Dato’)

Penerbit : Dewan Bahasa dan Pustaka

Tahun : 1993

Halaman : 254

Selakan pertama saya pada buku ini memaculkan satu baris kenyataan menarik dari penulis. Menurut Asmah Hj Omar, ‘leaning language is learning how to mean’. Bahasa ialah alat atau medium untuk menyampaikan makna. Dan titik inilah yang mendorong saya untuk membeli dan terus menilik buku ini dari kulit depan ke kulit belakang.

Bahasa sebagai alat komunikasi

Pada sesetengah orang, bahasa hanyalah bahasa. Berguna hanya sebagai perantara untuk berkomunikasi. Apa beza bahasa melayu dan bahasa Inggeris. Apa beza bahasa Arab berbanding bahasa Mandari. Ia sama. Semuanya adalah alat menyamaikan maksud. Untuk berkomunikasi. Justeru menyampaikan ilmu atau proses pembelajan di dalam bahasa apapun ia sama sahaja.

Adakah kenyataan ini benar? Apakah bahasa itu sekadar bahasa semata-mata.

Dalam bahasa Melayu sendiri pun terdapat banyak perkataan untuk mewakili sesuatu objek atau tindakan. Sebagai contoh, babi dan khinzir merupakan satu yang sama. Namun menyebut babi dalam satu perbualan meninggalkan kesan emosi yang sangat berbeza berbanding menyebut khinzir. Begitu juga istilah isteri, bini dan orang rumah. Juga istilah perempuan, wanita dan betina. Maksud lateralnya sama, namun kesan emosinya berbeza.

Makna dalam bahasa berbeza

Itu senario yang berlaku dalam satu bahasa yang sama, apatah lagi jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain. Justice dan keadilan, secara zahirnya sama, namun makna yang terkandung di sebalik pengertian justice pagi penutur bahasa Inggeris dan keadilan bagi penutur bahasa melayu lain. Justice difahami sebagai kesamarataan, makala adil ialah meletakkan sesuatu pada tematnya. Kasut kulis yang mahal tempatnya tetap di tapak kaki, berbanding kopiah yang murah tempatnya teta di kepala. Menurut logik tentu sahaja yang lebih mahal letaknya di tempat yang lebih tinggi?

Asmah Hj Omar daam buku ini mengupas bahasa dan alam pemikiran melayu. Beliau memulakan tinjauan berbahasa sedari alam kanak-kanak hinggalah kea lam dewasa. Kemudian beliau melanjutkan kajian kepada kaedah berbahasa dialek utara/ Kedah. Beliau memilih Kedah sebagai sample alam Melayu berdasarkan aktiviti ekonomi masyarakat kedah sebagai petani sawah dan nelayan. Aktiviti ekonomi utama orang Melayu Semenanjung secara umumnya ialah dua aktiviti ini ; petani sawah dan nelayan. Penulis menegaskan bahasa berkait rapat dengan aktiviti ekonomi.

Buku ini walaupu ditulis dengan agak padat dan berat, namun atas sifatnya sebagai buku yang berbicara tentang bahasa, maka ia masih boleh dibaca oleh orang awam dan dapat difahami dengan mudah.

Disember 2, 2009

Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Filed under: Kreatif,Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 10:56 am
Tags: , ,

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lantera Dipantara

Halaman : 124 mukasurat

Ini kisah Ranta dan isterinya Ijeng yang berkampung di Banten Selatan. Hanya ada 4 babak. Namun ia cukup untuk mengisahkan korupsi sebuah institusi masyarakat.

Kekuatan Pram, tidak syak lagi ialah pada ‘teknik bercerita’ yang visualik.

Sekarang dia menatap isterinya yang sejak tadi tidak membuka mulut dan hanya menain-mainkan hujung kebayanya”.

Matanya liar tertebar ke kiri, ke kanan, dan ke belakang

Dialog-dialog Pram saat falsafah dan bermakna.

Baca lagi

1. Perburuan

2. Keluarga Gerilya

Ogos 23, 2009

Salahuddin Al-Ayubi : Penakluk Jerusalem

Filed under: Sastera,Sejarah — Mohd Riduan Khairi @ 9:02 am
Tags: , , ,

Nama Salahuddin Al-Ayubi cukup dikenali bukan sahaja di dunia Islam bahkan dunia Barat dan Eropah juga. Beliau merupakan wira Islam yang bertanggung jawab memebus semula Baitulmaqdis (Jerusalem) selepas ditawan oleh pihak Yahudi.

Dalam sejarah peradaban Islam, kota suci umat Islam ini ditawan sebanyak 3 kali oleh pihak Yahudi. Kali pertama ia ditebus semula oleh Khalifah Islam yang kedua, Umar Al-Khattab. Dan kali kedua oleh Salahuddin Al-Ayubi. Kali ketiga ia ditawan ialah 50 tahun yang lalu, dan kini masih belum ada mana-mana wira dari kalangan umat Islam yang berjaya menebus kota suci itu.

salahudin-coverKelahiran novel sejarah mengenai Salahuddin Al-Ayubi tulisan Abdul Latip Talib mendapat sambutan yang sangat menggalakkan. Dalam masa beberapa tahun sejak pertama kali diterbitkan, naskah ini telah diulang cetak sebanyak 9 kali. Satu pencapaian yang luar biasa bagi karya genre ini.

Bertempat di Bilik Interaksi, Kompleks Bitara UPSI, telah berlangsung satu sesi diskusi memerikan naskah ini. Selain Pak Latib sendiri selaku penulis, turut serta ialah seorang sarjana sejarah dari UPSI sendiri, En Mohamad Kamal.

Adalah tidak adil bagi saya mengulas naskahnya, kerana saya belum membacanya. Menurut Pak Latip, novel ini mengisarkan kehidupan Salehuddin bemula dari zaman remaja, sehingga menjadi Sultan.

AbdulLatipTalibPak Latip menitip beberapa perkara menarik untuk dikongsi :

1. Kesemua pahlawan Islam yang Pak Latip kaji termasuk Salahuddin Al-Ayubi dan Sultan Muhammad Al-Fatih berkongsi ciri yang sama. Selain tegas dan perkasa mereka mempunyai akhlak yang paling mulia.

2. Sebaliknya pahlawan kafir tidak ada satu pun dari mereka mempunyai akhlaq yang mulia. Mereka kesemuanya hebat di medan perang dan pada masa yang sama ganas dan zalim terhadap mangsa perang. Bahkan ada yang zalim terhadap tentera pasukan sendiri

3. Salahuddin seorang yang patuh dan taat pada ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi.

4. Sebahagian kehebatan tentera dan pahlawan Islam masih misteri sehingga kini. Antaranya kemampuan teknologi Sultan Muhammad Al-Fatih memindahkan 7 buah kapal perang melalui jalan darat.

cik_kamal_-_CopyManakala sarjana sejarah En Mohamad Kamal melihat novel Salahuddin menepati fakta sejarah. Beliau memuji gaya penyampaian yang berkesan. Antara lain beliau menyebut :

1. Jerusalem atau Baitulmaqdis merupakan kota suci bagi 3 agama. Justeru itu tidak hairanlah ia menjadi rebutan sepanjang sejarah.

2. Konsep pahlawan Islam berbeza dengan bukan Islam. Islam membela sesiapa sahaja yang ditindas baik Islam mahupun bukan Islam.

Pahlawan Islam mematuhi peraturan perang untuk tidak membunuh wanita, kanak-kanak dan orang tua. Juga tidak memusnakha tanaman dan ternakan. Sebaliknya perang konvensional ala-barat memusnahkan hampir apa sahaja di atas muka bumi.

Ulasan saya

Saya sangat berpuas hati dengan pembentangan kedua-dua belah pihak. Sambutan pelajat juga sangat menggalakkan. Buat pertama kali saya melihat majlis berkaitan dengan buku dihadiri sedemikian ramai pelajar. Hampir 100 (mungkin lebih) memenuhi bilik Interaksi.

Saya akan terus membaca novel ini.

 

 

Foto dari blog Pak Latip

Foto dari blog Pak Latip

Eksplorasi Buku

 

Tempat : Bilik Interaksi, Kompleks Bitara UPSI

Masa : 10 : pagi

Tarikh : 21 Ogos 2009 (Jumaat)

Julai 12, 2009

Atas Nama Cinta (2006)

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 4:06 am
Tags: , ,

atas_nama_cintaHalaman : 284
Harga : RM 29.00

Novel Epik Sejarah

Dua dunia bertembung untuk merebut cinta Natra

Beberapa tarikan naskah penulis dari Singapura ini. Selepas buku ini dibeli dan sebelum ia dibaca, saya menyelidiki dahulu latar belakang penulis yang namanya sedap disebut dan juga didengar.

Tarikan pertama adalah dari judulnya. Atas Nama Cinta, satu judul yang membawa makna besar. Pemilihan kata yang biasa namun mengikat makna yang luar biasa. Selepas filem Ada Apa dengan Cinta dan novel Ayat-Ayat Cinta, tentu Atas Nama Cinta bakal memberikan impak besar. Itu tanggapan awal saya selaku pembeli.

Nama ISA KAMARI yang dicetak lebih besar dari tajuknya seolah-olah penulis ini punya nama yang sangat besar dan berpengaruh seperti Shahnon Ahmad atau A Samad Said kalau tidak Tostloy sekalipun. Tertera ‘Penerima SEA Write Award 2006, satu penganugarahan yang diimpikan oleh kebanyakan penulis.

Dari sudut pemasaran, naskah ini sudah berjaya. Berjaya menambat pembaca serius dan peminat buku.

Sinopsis

Atas Nama Cinta, novel epik sejarah seperti blurbnya merakamkan kisah Nadra (dikelali sebagai Natrah), gadis Belanda yang dibela oleh wanita Melayu pada era sebelum Malaya merdeka. Pergolakan meletus apabila berlaku ibu bapa kandung Nadra menuntut semula hak penjagaan Nadra selepas hampir 10 tahun. Konflik Nadra mencetuskan pergeseran yang lebih besar membabitkan bangsa dan sentime agama Islam – Kristian.

Ulasan (baca lagi di Wikipedia)

Ceritanya sudah dimaklumi. Sejarah mencatatkan akhirnya Nadra kembali diserahkan kepada keluarga asalnya. Namun melalui novel ini Isa Kamari membawa sejarah ini lebih dekat kepada pembaca. Peristiwa penyerahan Nadra, tuntutan semula dan perbicaraan diceritaka lebih lanjut.967978287501aa240sclzzzci5

Sebagai epik sejarah, Atas Nama Cinta terasa sangat pantas melewati babak-babak konflik. Penulis seolah-olah terkejar-kejar menyudahkan setiap babak. Naskah epik ini akan menjadi lebih baik dan bernilai sekiranya maklumat budaya ditambah memandangkan latar cerita ini berlaku pada tahun-tahun sebelum merdeka. Aktiviti ekonomi dan social umpanya sangat kurang diperkatakan.

Novel ini kurang dialog. Penulis lebih senang bercerita sendiri melalui ayat-ayat naratif yang dipermudahkan. Banyak tingah laku dan kelakuan watak ditafsir sendiri oleh penulis. Emosi watak-watak utama dalam kebanyakan babak disimpulkan penulis dengan tafsiran singkat.

Satu kecenderungan Isa Kamari dalam novel ini ialah melukiskan karakter setiap watak yang muncul di awal babak. Nadanya sama. Diperincikan sendiri oleh pengarang tanpa memberi peluang untuk watak itu berkembang dengan sendiri. Semua watak dicirikan dengan gaya yang sama. Dan perlukan semua watak utama dicirikan satu persatu. Dari bundar matanya, kuning langsatkah kulitnya, berbaju apakah dia. Saya berpandangan novel ini akan lebih enak dinikmati sekiranya cara watak itu deperkenalkan itu biar dipelbagaikan teknik dan pendekatannya. Mungkin melalui dialog. Mungkin juga melalui pengarang juga, tetapi tidak sekaligus.

Namun dari satu sudut yang lain, Isa Kamari berjaya merakamkan kisah Nadra ini semula dengan maklumat dan fakta menarik. Penglibatan Karim Ghani yang menjadi idola kepada Dr. Burhanuddin Helmy. Usaha Tunku Abdul Rahman memujuk Dato’ Onn supaya sama-sama berjuang untuk Nadra, biarpun ditolak mentah-mentah (ingat Dato Onn ialah Pegawai Daerah Batu Pahat di zaman British). Mengingatkan saya kepada Pak Subky Latif yang banyak menulis sejarah Malaya sebelum merdeka.

Kisah Nadra dan fakta-fakta sejarah ini yang menguatkan semangat saya menyudahkan pembacaan Atas Nama Cinta. Berdasarkan naskah ini saya buat keputusan Isa Kamari bukanlah penulis kegemaran saya. Tidak seperti pemenang Anugerah SEA Write yang seorang lagi, Azizi Abdullah yang cukup saya minati. Hampir kesemua novelnya saya miliki.

2 ½ bintang dari 5 untuk Atas Nama Cinta.

Nadra Maarof alias Bertha Hertough menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 Julai baru-baru ini. Saya masih belum mendapat kepastian adakah dia Muslim atau tidak semasa melelapkan mata. Jika dia mengucapkan kalimah syahadah maka tentu dia termasuk dalam golongan yang selamat diakhirat. Jika sebaliknya, maka rugilah.

Bacaan tambahan

1. Datin Fatini Yaacob

2. Isa Kamari

Julai 5, 2009

Perangai Bergantung Kepada Diri Sendiri

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 4:07 am
Tags:

perangai-ZaabaPenulis : Pendita Za’ba

Penerbit : Dewan Bahasa dan Pustaka (1982)

‘Kekayaan saudagar pundi-pundi emasnya, kekayaan Pendita keping-keping kertasnya’.

Za’ba atau nama panjangnya Zainal Abidin b Ahmad di (1895-1973) diberi gelar Pendita secara rasmi pada tahun 1956 dalam Kongres Penulisan dan Bahasa Melayu Ketiga di Johor Bahru. Sumbangan beliau terhadap perjuangan dalam memartabatkan bahasa Melayu.

Krisis bahasa Melayu bukan isu hari ini sahaja (merujuk kepada PPSMI), sebaliknya ia telah dibincang oleh cendekiawan melayu sejak berpuluh-pulh tahun dahulu, bahkan beratus-ratus tahun dahulu.

Benar kata Laksamana Hang Tuah, “takkan melayu hilang di dunia”. Namun darah dan kulit bangsa melayu tidak hilang ditelan zaman, namun identiti melayu sebagai sebuah bangsa dunia semakin terhakis. Za’ba  telah lama mengulas dan mengkritik melayu kerana mengabaikan bahasanya juga nilai-nilai munrni dalam bangsanya. Bahkan lama sebelum itu Abdullah Munsyi telah menyelar sikap melayu yang meremehkan bahasa dalam Hikayat Abdullah.

Perangai Bergantung Kepada Diri Sendiri

Buku karangan Za’ba ini membincangkan secara kritis sikap dan budaya melayu yang selalu mengharapkan bantuan dari pihak lain untuk maju. Kritikan Za’ba merentasi sikap melayu dalam bidang ekonomi (yang selalu mengharapkan insentif berupa subsidi, kuota dsb), intelektual hinggalah ke hal ehwal agama.

Za’ba secara jelas menolak sikap umat Islam Melayu yang mengharapkan sedekah tahlilan dan doa arwah untuk masuk syurga. Sebaliknya, menurut pengarang Allah dan rasul secara jelas menyebutkan bahawa nasib seseorang hamba itu bergantung kepada apa yang diusahakannya, baik hal di dunia mahupun di akhirat.

Bacalah buku ini. Pada ketika hari ini, kurang penulis yang mahu dan berani mengulas nasib dan sikap bangsanya secara kritis.

Julai 1, 2009

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 12:11 am
Tags: ,

hamka - tenggelamnyaPenulis : Hamka
Penerbit : Pustaka Dini (2002)

Saya baca novel ini sekali sahaja, dan tidak mampu mengulanginga lagi. Kesan membacanya sekali sudah cukup dalam. Lebih mencengkam dari menonton Titanic (1997). Rasa kehilangan, sepi dan sesal.

Benar kata pepatah, yang paling jauh dari kita ialah masa lalu. Lebih jauh dari matahari, bulan dan mungkin juga galaksi lainnya. Sepantas dan secanggih mana pesawat tidak akan mampu kembalikan kita ke detik yang sudah lalu. Inilah yang dirasakan selepas usai membaca Tenggelamnya Kapal  Van Der Wijck.

Kisahnya

Zainuddin, jejaka golongan biasa yang mengimpikan gadis dari golongan hartawan, Hayati. Kerana darjat mereka terpisah. Lewat beberapa peristiwa akhirnya Zainudin kembali dengan kedudukan yang lebih baik. Namun tragedi menimpa perhubungan Zainudin dan Hayati. Takdir tuhan menentukan mereka tidak akan bersama. Hayati mati selepas terlibat dalam kemalangan Kapal Van Der Wijck.

Cinta versus harta

Ini adalah kisah cinta dua darjat. Zainudin yang miskin dan Hayati yang hartawan. Walaupun Hayati berusaha sesungguh-sungguhnya mempertahankan cinta sucinya terhadap Zainudin, namun Hayati terlalu kecil untuk melawan adat dan kehendakkaum keluarga.

Khadijah teman rapat Hayati mengungkapkan :
Engkau puji-puji kebaikin Zainudin, saya memuji-muji kebaikannya. Tetapi orang yang demikian, di zaman sebagai sekarang ini tak dapat dipakai. Kehendak zaman sekarang berkehendak kepada wang dan harta cukup.  Jika berniaga, perniagaannya, jika makan gaji, gajinya cukup. Cinta walaubagaimana sucinya, semua bergantung kepada wang”.

Balas Hayati :

Tidak, Khadijah!” jawab Hayati, “pendapatmu tak betul, cinta tak bergantung kepada wang. Kalau dua orang yang bercinta dapat bertemu, kesenangan dan ketenteraman fikirannya, itulah wang, itulah kekayaan, lebih dari gelang emas dokoh berlian, pakaian cukup. Itulah kesenangan yang tak lekang dek panas, tak lapuk dek hujan”.

Kelebihan Buya Hamka ialah beliau menulis dari hati. Seakan-akan apa yang lahir itu benar-benar berlaku kepadanya (mungkin juga). Dan dengan pengaruh pena, pengarang Berjaya membuat pembaca terlibat sama dalam setiap babak yang diceritakan.

Selepas lebih puluhan tahun Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, khalayak pembaca masih ternanti-nanti naskah ceritera cinta setanding ini. Banyaknya lekas lupus ditelan waktu.

Jun 30, 2009

Perjalanku Sejauh Ini : Sebuah Autobiografi

Filed under: Sastera — Mohd Riduan Khairi @ 6:45 am
Tags: ,

shahnon - perjalankuPenulis : Shahnon Ahmad (2006)

Seingat saya Shahnon sudah menulis tentang dirinya beberapa kali. Satu darinya Detik-detik Diri di Daerah Dhaif (1995). Yang keduanya naskah ini.
Dalam naskah ini Shahnon seakan memberi justifikasi tentang keputusan-keputusan besar yang dibuat dalam hidupnya. Antara yang dihurai dengan panjang lebar ialah penglibatan beliau dalam Al-Arqam (bab 7). Juga perjuangan beliau dalam Parti PAS sehingga beliau dipilih mewakili PAS menjadi Ahli Parlimen Sik (bab 8). Seterusnya beliau menceritakan semula saat-saat beliau diuji dengan penyakit Myasthenia Gravis.

Bahagian-bahagian penting ini memberikan Shahnon ruang koreksi yang besar.

Ketika fasa Shahnon aktif dalam politk secara langsung, lahir karya-karya yang pedas dan lantang terhadap pemerintah seperti Shit dan Maha-maha dan Nurul Anak Papa.

Manakala fasa selepas beliau sembuh dari penyakitnya, lahir dari beliau karya-karya yang bersifat merenung ke dalam diri dan berunsur kerohanian. Antaranya Lamunan Puitis dan Mahabbah.

Saya secara peribadi lebih dekat dengan naskah-naskah Shahnon sebelum beliau terjun ke dalam dunia politik kepartian. Ranjanu Sepanjang Jalan, Seluang Menodak Baung dan Srengenge walaupun sudah sinis terhadap pihak berkuasa namun masih dapat dinikmati.

Sejak bermula dengan Shit yang memualkan, naskah beliau fasa selepas sembuh dari penyakit terasa sukar untuk dinikmati. Ia lebih merupakan monolog panjang seorang sasterawan terhadap dirinya sendiri.
Perjalanku Sejauh ini, walaupun sangat bermanfaat kepada peminat sastera khusunya Sasterawan ini, namun kualiti ‘editing’ nya sangat rendah. Dan seara tidak langsung mengganggu proses pembacaan.

Laman Berikutnya »

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.