Mari baca

Oktober 31, 2011

Syarah Kasyfu Syubhat

Filed under: Akidah,Akidah dan Manhaj — Mohd Riduan Khairi @ 7:57 am
Title: Syarah Kasyfu Syubuhat dilengkapi Syarah Ushulus Sittah Membongkar Akar Kesyirikan
Judul Asli: Kasyfu Syubuhat/Syarah Ushulus Sittah
Author: Syaikh Muhammad B. Soleh al-’Utsaimin
Karya asal oleh Syaikh Muhammad B. ‘Abdil Wahhab
Publisher: Media HidayahPrice:  RM18 (beli di galeriniaga)
Weight:300g
Kitab ini khusus di karang dan disusun untuk membuat bantahan terhadap syubhat-syubhat yang dikemukakan oleh ahli bid’ah. Terutama yang berkaitan isu akidah dan amalam-amalan syirik.
Catatan : syubhat ialah keraguan-keraguan berkaitan urusan agama. Para ulama membahagikan fitnah atau ujian kepada umat Islam terbahagi kepada dua. Pertama ialah ujian atau godaan syahwat yakni nafsu seperti harta, wanita, pangkat dan sebagainya. Kedua ialah fitnah syubuhat, yakni keraguan-keraguan di dalam hati. Kedua-duanya merbahaya kepada agama. Namun para ulama menyebutkan fitnah syubhat jauh lebih berbahaya berbanding fitnah syubhat.
Secara umum, format naskah ini ialah mengemukakan syubhat yang muncul dalam maysrakat dan kemudian baharulah pengarang rahimahullah mengemukakan bantahan. Dan ia disyarahkan (penjelasan dan keterangan) oleh ulama semasa yang sangat disegani yakni Syaikh Muhammad bin Soleh al-Uthaimin. Beliau diberi jolokan Faqiihuz Zaman.

Kaedah mengemukakan keraguan dan bantahan ini bukanlah asing. Buktinya sebahagian bahkan kebanyakan penghujahan yang dikemukakan oleh pengarang berasal dari Al-Qur’an sendiri. Beliau hanya menukil dan menjelaskan semula.

Pada awal naskah penulis menyatakan,

Saya akan menuturkan kepada anda beberapa hal([1]) yang sudah disebut oleh Allah dalam kitab-Nya sebagai jawaban terhadap suatu ucapan yang dipakai hujjah oleh orang-orang musyrik pada zaman kami(yang ditujukan) kepada kami. Maka, kami akan katakan: Jawaban untuk para pengikut kebatilan itu ada dua cara:

1-Mujmal (secara global)

2-Mufashshal (secara terperinci).

Jawaban secara mujmal itu merupakan sesuatu yang agung dan merupakan pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mau memikirkannya. Hal itu adalah firman Allah I:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِنۡهُ ءَايَـٰتٌ۬ مُّحۡكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌ۬‌ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ‌ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu, diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan , maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari takwilnya”(QS. Ali Imran:7).

Sebuah hadits shahih (dalam shahih Bukhari dan muslim) dari ‘Asyiah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah e bersabda:

(( إِذَا رَأَيْتُمْ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى الله فَاحْذَرْهُمْ ))

“Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah: (dengan sebutan “fi qulubihim zaigh”), maka waspadalah kalian terhadap mereka.”

Boleh baca nukilan penuh kitab ini di sini.

Saya sangat puas hati membaca naskah ini. Dan berharap dapat menekuni lagi (seandainya ada) syarah dari ulama’ lain tentang kitab ini. Seakan tidak puas membaca syarah Syaikh Ibn Uthaimin, agak ringkas pada sebilangan bab.

Ia memberi pencerahan pada banyak isu yang bermunculan akhir-akhir ini berkaitan isu akidah. Ia merupakan teks yang wajib bagi penuntut ilmu, dan berupaya menjadi benteng akidah yang mapan dari perbuatan syirik. Wallahuaklam.

Oktober 4, 2011

Jangan Bersedih dan Koreksi Dr Ibrahim ar-Ruhaili

Filed under: Akidah dan Manhaj,Senarai Bacaan,Tips membaca,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 6:47 am

dipetik dari assunnah

sumber : Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H.

BERSEDIHLAH!!!

Koreksi DR. Ibrahim ar-Ruhaili terhadap buku Laa Tahzan dan pengarangnya serta pemikiran da’i kondang Salman Al-Audah dan Safar Hawali

Buku Laa Tahzaan (Jangan Bersedih/Don’t Be Sad) yang ditulis oleh DR. Aidh al-Qorni mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian kaum muslimin. Buku ini katanya mendapatkan label “Best Seller”, namun hal ini tidaklah menunukkan akan kebaikan dan kebenaran buku ini termasuk pengarangnya. Sebetulnya telah beberapa kali kami sampaikan tentang penyimpangan-penyimpangan Salman al-‘Audah, Safar Hawali dan Aidh al-Qorni ini, tapi masih saja ada para pemujanya yang mendustakannya dengan dalih dan alasan yang lebih lemah daripada sarang laba-laba. Semisal ucapan mereka : tunjukkan kepada kami kesalahan.penyimpangan yang terdapat pada buku La Tahzan!!! Dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. Oleh karenanya pada edisi ini kami mengangkat sebuah rubrik yang mudah-mudahan bisa menerangi hati para pengagum dan fans Aidh al-Qorni, jika memang masih ada cahaya di hatinya.

Rubrik “Bersedihlah” ini diambil dari soal jawab dengan Prof. DR. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili, dosen faklutas Usuhuluddin, Universitas Islam Madinah, KSA, pada saat Dauroh Syar’iyyah VI di Kebun Teh Agro-Wisata, Lawang, Malang, yang diselenggarakan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafi Surabaya. Soal Jawab ini ditranskrip oleh al-Akh ‘Abdul Muhsin dan diterjemahkan oleh al-Ustadz Imam Wahyudi, Lc.(Red.)

Pertanyaan : Kami mendengar bahwa para ulama salafiyyin memperingatkan dengan keras dari pemikiran-pemikiran Dr. Salman al-Audah, Dr. Safar al-Hawali, Dr. ‘Aidh al-Qorni, serta yang semisal dengan mereka. Apakah sebenarnya kesalahan-kesalahan mereka, terlebih yang namanya disebutkan paling akhir (Aidh al-Qorni), karena buku-bukunya yang sudah diterjemahkan tersebar luas di negeri kami ; seperti buku “Laa Tahzan” (jangan bersedih).

Jawab : Orang-orang yang telah disebutkan tadi memiliki berbagai penyimpangan dalam banyak bidang, kita tidak mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kebenaran sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, kaset-kaset mereka yang berisi penjelasan atas beberapa buku banyak diminati masyarakat, akan tetapi perkataan mereka banyak menyelisihi manhaj salaf. Diantaranya adalah sikap mereka terhadap pemerintah, yaitu : plin plan, terkadang menyebarkan dan membicarakan aib pemerintah, dan pada lain waktu bersikap loyal dengan pemerintah.

Banyak sekali perkataan di dalam buku-buku mereka bersumber dari perkataan selain Ahlus sunnah, memberikan dalil atas pendapat mereka dengan perkataan orang-orang yang menyelisihi Ahlus sunnah, bahkan terkadang mereka mengambil perkataan para orentalis, seperti buku yang ditanyakan diatas. Bagaimana mungkin seorang yang dikatakan berilmu agama dan menisbatkan dirinya kepada sunnah, mengarang sebuah buku yang penuh dengan nukilan dari kaum orintalis?

Kemudian judulnya “Laa Tahzan” (jangan bersedih), maksudnya bersedih atas apa ? apakah maksudnya bahwa manusia tidak boleh bersedih atas sesuatupun? Padahal kesedihan itu sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala atas kesabarannya tersebut.

Cara berdialog dengan manusia seperti ini, “Laa Tahzan” (jangan bersedih), kemudian obatnya adalah perkataan kaum orintalis?! ini adalah bukti kedangkalan pemahamannya, seakan-akan al-Qur’an tidak cukup bagi kita dan di dalamnya ada hal yang menjadikan kita bersedih, sehingga kita perlu lari dari al-Qur’an dan as-Sunnah dan berpaling kepada perkataan kaum orientalis!! Ini sangat berbahaya.

Oknum-oknum di atas memiliki banyak kesalahan, meskipun kesalahan mereka berbeda-beda. ‘Aidh al-Qorni adalah seorang sasterawan, terkadang berbicara sesuai dengan aqidah Ahlus sunnah, dan pada kali yang lain melontarkan pendapat yang amat berbahaya, bahkan sampai kepada derajat kesyirikan serta beberapa istilah aneh. Saya pernah mendengar bait-bait syairnya, isinya dekat dengan pemikiran penganut wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti), sebagian baitnya mendiskreditkan para sahabat dan seterusnya dan masih banyak lagi keanehan-keanehannya(1). Orang ini tidak bisa menjaga lisan dan perkataannya, dan dari dulu terkenal sebagai seorang yang mudah sekali marah.
Oleh karena itu, kita tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang seperti ini. Jika seseorang telah memahami ilmu agama dan metode para ulama, maka dia akan mengetahui bahwa orang-orang ini bukan berada diatas jalannya para ulama. Kita juga tidak terus menerus menuduh niat-niatan manusia, akan tetapi inilah barang dagangan yang mereka tawarkan kepada manusia. Hendaklah kita berhati-hati terhadap perkataan mereka, dan kita kembali kepada perkataan para ulama yang mulia.

Perkataan Ahlus sunnah, itulah yang bermanfaat bagi manusia. Allah telah mencukupkan kita dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dari perkataan makhluk, akan tetapi perkataan para ulama yang mendekatkan pemahaman kita terhadap ilmu syari’at, baik berupa uraian maupun penjelasan panjang lebar, serta pembahasan berbagai permasalahan, inilah yang lebih bermanfaat bagi manusia.

Adapun yang orang-orang yang buku-bukunya berdasarkan perkataan selain Ahlus sunnah, bahkan dari penentang sunnah yaitu kalangan ahlul bid’ah, (maka wajib dijauhi –pent). Sungguh perkataan mereka banyak bersumber dari perkataan Ahlul Bid’ah, semisal Sayyid Quthub dan Muhamad Quthub2. Mereka itu (Salman cs.) secara terang-terangan menyatakan bahwa keduanya adalah ulama mereka, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Anu adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan bahwa buku si Fulan adalah buku yang paling baik, sebagian lagi menyatakan dengan terang-terangan, bahwa ketika mereka berada di penjara, mereka banyak membaca serta menekuni buku-buku Sayyid Quthub.

Inilah barang dagangan mereka, pemahaman mereka bukan hasil dari pendidikan di atas manhaj yang benar, bahkan terpengaruh dengan sebagian ahlil bid’ah, sehingga menghasilkan penyimpangan manhaj. Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk menjauhi buku-buku tersebut, dan juga tidak boleh membantu menyebarkanya, karena di dalamnya penuh dengan kesesatan dan penyimpangan, walau mungkin saja didalamnya ada kebenaran. Akan tetapi yang dimaksud, bukanlah adanya kebenaran dalam sebagian buku akan tetapi yang dimaksud adalah, hendaklah buku tersebut bebas dari kesalahan-kesalahn yang fatal.

Sungguh saya mengatakan bahwa tiada seorangpun yang hatinya disinari oleh Allah dengan Sunnah, ketika membaca perkataan mereka, mendengarkan kaset-kaset mereka, serta banyak bersentuhan dengan buku-buku mereka, pasti akan muncul dalam dirinya penolakan atas perkataan mereka, yaitu orang yang hatinya disinari oleh Allah dengan ilmu agama dan sunnah.

Ketika anda mendengarkan perkataan-perkataan Ibnu Baaz, Ibnu Utsaimin, al-Albani, al-Fauzan dan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, mereka adalah para ulama, niscaya anda akan mendapatkan ketenangan dari perkataan para ulama tersebut, yang didukung oleh dalil-dalil, dalam bentuk penjelasan, uraian, dan menentukan pendapat yang lebih kuat. Beda dengan mereka, yang banyak perkataannya tidak berdasarkan dan tidak merujuk kepada dalil-dalil.

Saya teringat, suatu kali dalam salah satu koran, Salman menetapkan dasar-dasar dan metode berdakwah, diantaranya dia menyebutkan point, “Apakah jalur-jalur yang berdampingan itu?” Salman mengatakan : “Sesungguhnya dakwahku dan dakwahmu tidak bertentangan, hakikatnya hanyalah dua jalur dalam satu jalan”, kemudian dia mengatakan : “Bukanlah menjadi syarat dakwahku, agar selaras dengan pikiran anda.”

(Komentar Syaikh Ibrahim) : Dia membekali manusia dengan ungkapan-ungkapan yang membius. Makna perkataannya : Dakwahku yang saya terapkan sekarang ini, kenapa anda menginginkannya selaras dengan pikiran anda, sehingga bisa sukses. Biarkanlah dakwah tersebut berjalan di satu jalur dan anda di jalur yang lain.

Ini adalah perkataan yang keliru, kami tidak mengatakan agar dakwah Salman selaras dengan pikiran kita, akan tetapi hendaklah selaras dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita bukan sedang membicarakan pikiran kita, sampai-sampai anda (Salman) mengatakan istilah jalur-jalur yang selaras, karena dalam dakwah hanya ada satu jalan.

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain(, Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am : 153).

Dakwah kami sekarang ini bukanlah bersumber dari pikiranku. Ketika saya menyampaikannya, saya hanya menyebutkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Inilah barang dagangan mereka. Dia (Salman) menyangka bahwa setiap da’i punya pikiran, anda punya pikiran, saya punya pikiran dan setiap manusia punya pikiran dalam dakwahnya. Inilah yang dia istilahkan dengan jalur-jalur yang selaras, maksudnya : tidak saling bertentangan, semua akan bermuara pada satu jalan. Ini suatu kesalahan.

Kemudian dia menyebutkan beberapa aturan, diantaranya dia menyatakan : “Kita tidak patut sibuk dengan kaum muslimin, sehingga menyebabkan kita lalai dari Yahudi dan Nasrani, musuh kita yang hakiki.”

(Komentar Syaikh) : Aturan ini memiliki konsekwensi, yaitu agar kita tidak membantah kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah, demikian juga kita tidak boleh menyebutkan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam tubuh kaum muslmin, sampai tuntasnya urusan kita dengan Yahudi dan Nasrani.
Padahal, Yahudi dan Nasrani ada sejak zaman Nabi Muhammad sampai zaman kita, bahkan buku-buku ulama salaf yang dikarang untuk membantah ahlil bid’ah, justru ketika Yahudi dan Nasrani masih eksis. Para ulama yang mengarang bantahan terhadap Jahmiyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah dan ahlil bid’ah, mereka semua mengetahui (akan bahayanya) Yahudi dan Nasrani. Kemudian tiba-tiba mereka (Salman cs.) mengatakan : Kami tidak akan membicarakan para penentang sampai urusan kita Yahudi dan Nasrani tuntas.
Inti konsekwensi perkataan ini adalah, kita harus menghentikan dakwah sampai bumi bersih dari Yahudi dan Nasrani. Padahal, kenyataan dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani tetap ada sampai akhir zaman, bahkan jumlah mereka banyak.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam memberitakan, bahwa kalian akan memerangi Yahudi, sampai-sampai batu dan pohon mengatakan : “Wahai muslim, dibelakangku ada seorang Yahudi, bunuhlah dia.” Dan kita juga tidak mengetahui kapan datangnya masa itu, sehingga kita harus menghentikan dakwah kita sekarang ini, kita tidak berbicara masalah aqidah, tidak membantah orang-orang yang meniadakan nama dan sifat-sifat Allah, menyerupakan Allah dengan makhluk, mengingkari takdir Allah, berpemikiran Murji’ah, mudah mengkafirkan kaum muslimin. Kita tidak boleh berbicara sampai Yahudi dan Nasrani sirna?! siapa yang mengatakan ini?! termasuk ulamakah?

Kemudian Salman mengatakan : “Siapa yang bisa memberikan satu bukti kepada saya, bahwa dia menguasai setiap permasalahan. “ Lihatlah ungkapan yang dia pilih! “menguasai setiap permasalahan”. Yang dimaksud oleh Salman adalah : Dakwah kita sekarang ini, kenapa setiap permasalahan yang dia bicarakan, kalian (Salafiyun) ikut mengomentarinya?! Dan seandainya sekarang dia mendengar perkataan ini, (niscaya kita gunakan juga senjatanya, pent.) kenapa anda mengomentari perkataanku?! Tinggalkan perkataanku! Perkataan Salman ini bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dia mengatakan : “Siapa yang bisa memberikan satu bukti kepada saya, bahwa dia menguasai setiap permasalahan.

Dalilnya sangat jelas, sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

“Siapa saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisan. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya “. (HR Muslim)

Perkataan yang disebarkan di koran ini, apakah suatu kesesatan atau kebenaran? ini adalah suatu kesesatan, tidak boleh seseorang yang memiliki ilmu agama lalu mendengar perkataan ini kemudian diam. Inilah dalil tentang wajibnya seorang muslim untuk berbicara, ketika mengetahui suatu kebatilan, serta memperingatkan manusia agar menjauhi ketika mengetahui suatu kebatilan.
Saya teringat diantara perkataannya, dia mengatakan : “Kita memiliki potensi yang amat banyak, buktinya : ada seorang mengatakan suatu ide kemudian ia mengarang sebuah buku, dicetak 3000 atau 6000 exemplar, kemudian ada orang lain membantahnya sebanyak 6000 exemplar, kemudian apa hasilnya? Hasilnya adalah nol!! menyia-nyiakan harta kaum muslimin!!!”

Apa makna perkataanya? Maknanya adalah, buku-buku bantahan itu adalah kerugian. Orang yang lalai ini (Salman) tidak sadar, bahwa ketika seorang menyebarkan diantara manusia 6000, 50.000 atau bahkan berjuta-juta exemplar kebatilan, kemudian ada seorang yang membantahnya, ini hasilnya bukan nol. Mereka tidak mengetahui, bahwa bantahan itu akan memusnahkan bid’ah dan kesesatan yang tersebar ditengah-tengah masyarakat. Mereka berbicara dengan suatu perkataan, yang jika salah seorang awam dari kaum muslimin, yang memiliki fithroh yang sehat, pasti dia mengetahui bahwa perkataan seperti ini adalah suatu kebatilan.

Sebenarnya, saya tidak banyak menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan mereka, saya tidak banyak mendengar kaset-kaset mereka, tidak banyak membaca buku-buku mereka dan tidak pernah secara khusus memperhatikan perkataan orang ini (Salman). Adapun jika saya benar-benar meneliti perkataan mereka di dalam buku-buku mereka, niscaya akan saya dapati hal-hal yang sangat berbahaya.

Maka dari itu, saya nasehatkan kepada para penuntut ilmu, hendaklah ketika mengkritik mereka, haruslah dengan dasar ilmu. Sebagaimana problematika sebagian salafiyin yang tergesa-gesa mengomentari, mencela dan memaki, dengan tanpa bukti. Manusia tidak akan menerima kritikan anda.4
Jelaskan kepada manusia, saya sekarang ini mengkritik Salman dari pembicaraannya yang saya miliki sekarang ini, point-point yang kita sebutkan ada di dalamnya, kemudian kami biarkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah menghukuminya. Semua manusia akan menerima kritikan anda. Beda halnya apabila kita mengkritik tanpa bukti, pasti manusia tidak akan mau menerima komentar anda.

Orang-orang tersebut memiliki pendapat-pendapat (yang batil), maka berhati-hatilah dari buku yang berjudul “Laa Tahzan” (jangan bersedih), bacalah dulu, kemudian perhatikan isinya. Kalangan penuntut ilmu agama yang paling awampun, ketika membaca buku ini, pasti mengetahui kesesatan yang ada didalamnya. Kami katakan dengan sebenarnya, bahwa mereka ini, sama saja, baik dia menginginkan kebaikan atau tidak menginginkannya, perkara itu urusan Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi di dalam buku-buku dan kaset-kaset mereka ada muatan penyimpangan aqidah dan manhaj Ahlusunnah yang amat besar. Maka dari itu, kita harus berhati-hati dari buku-buku dan kaset-kaset yang telah merusak sejumlah besar para pemuda. Mereka ini mudah sekali berubah pendirian, setiap hari memakai metode yang baru.

Sampai-sampai, diantara perkataan Salman yang paling akhir saya dengar di radio Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi, dia menjawab : di dalam perayaan Maulid Nabi banyak kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan kurang menjaga kebersihan. Maka penyiar radio –yang tidak menekuni ilmu agama- berkata : Bukankah perayaan maulid itu tidak dikenal pada zaman salaf ? Salman menjawab : iya, iya pendapat ini benar.(5)
Apakah orang seperti ini, yang sekarang dielu-elukan oleh banyak pemuda untuk menduduki kedudukan Imam Ahlus Sunnah?! padahal dia tidak mengetahui hukum perayaan maulid?! ini sangat merepotkan, kita tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh orang-orang ini?! Apakah mereka ingin berbasa-basi dengan ahlul bid’ah, yaitu dalam metode mereka yang terbaru, setelah sebelumnya mereka bersikap sangat keras, bahkan mengeluarkan vonis bid’ah, kufur, kemudian sekarang mereka tinggalkan semua itu?

Sebelumnya, mereka pernah menyatakan bahwa pemerintah Arab Saudi telah kafir, karena membolehkan tabarruj dan memberikan kebebasan kepada kaum wanita, sekarang mereka memperbolehkan wanita menyetir mobil dan membuka hijab (cadar). Mereka menyatakan bahwa hukum wanita menyetir mobil tidak ada dalam surat ini dan itu, sebagian mereka menyatakan, diantaranya ‘Aidh al-Qorni : hukum hijab sekarang ini telah jelas, bahwa wanita yang membuka wajahnya (tidak memakai cadar) hukumnya tidak mengapa.
Ini terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini.6 Akan tetapi yang menjadi titik permasalahan adalah ketidakmenentuaan pendirian mereka. Kemarin bersikap keras, sekarang menggampang-gampangkan. Kemarin mengkafirkan Rofidhoh,7 menyatakan bahwa pemerintah (Arab Saudi) berbasa-basi dengan Rofidhoh, sekarang berbalik menuntut pemerintah untuk membuka sekolah-sekolah Rofidhoh serta duduk berdampingan bersama mereka.

Saya mendengar komentar Salman yang terakhir, kira-kira seminggu yang lalu ketika ia ditanya tentang Iraq. Ia mengatakan : “tidak sepatutnya kita memecah belah kaum muslimin di sana, karena kaum muslimin senantiasa hidup berdampingan antara ahlus sunnah dan syia’h8 dalam kurun waktu yang begitu lama.”

(Komentar Syaikh Ibrahim) Apa makna ‘hidup berdampingan’? dan siapakah dari kalangan awam sekarang ini yang memahami (rahasia) perkataan ini?! Kenapa dia menipu kaum muslimin dan menipu ahlus sunnah?! Komentar yang aneh ini sekarang benar-benar ada.

Saya secara pribadi, sebagaimana yang telah saya sampaikan, tidaklah menyibukkan diri untuk mengamati perkataan-perkataan mereka, atau mendengarkan kaset-kaset mereka, dan tidak juga membaca buku-buku mereka. Akan tetapi yang saya komentari ini, hanyalah sesuatu yang kadang-kadang saya dengar dari radio. Seandainya ada orang yang secara khusus mengamati perkataan mereka, kemudian mengkritik dan mengeluarkan darinya point-point yang menyelisihi aqidah ahlus sunnah, maka pasti dia akan banyak mendapatkannya.

Maka dari itu, saya peringatkan dengan keras para penuntut ilmu yang memahami sunnah, yang diberi anugerah hidayah oleh Alloh, serta yang mengetahui aqidah ahlus sunnah agar mereka berhati-hati dari tipu daya orang-orang seperti mereka ini. Dan kami juga tidak menuntut kepada para penuntut ilmu tersebut untuk bersikap keras secara berlebihan, dengan menuduh mereka sebagai orang-orang zindiq (munafik kelas kakap).

Demi Alloh kami tidak mengatakan dan berkomentar demikian, akan tetapi yang kami katakan adalah, bahwa ada kebodohan di dalam diri mereka, atau di dalam diri mereka terdapat bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan. Adapun perkara mereka tahu atau tidak tahu, itu kembali kepada Alloh. Demikian juga perkara mereka memiliki niatan yang jelek, itu juga kembali kepada Alloh. Adapun berdasarkan perkataan mereka yang sudah tersebar, maka di dalamnya mengandung bid’ah-bid’ah, kesesatan dan penyimpangan dari aqidah ahlus sunnah. Bahkan wajib bagi penuntut ilmu agar berhati-hati terhadap mereka.
Metode yang ditempuh oleh para ulama sudah sangat dikenal, demikian pula keselamatan manhaj mereka dari penyimpangan. Seorang yang masih hidup di kalangan para ulama tidak memiliki sikap yang berbeda-beda (dalam satu permasalahan yang sama), yakni sering berubah-ubah, seperti yang mereka istilahkan “berubah sesuai dengan zaman dan keadaan.” Perubahan sikap para ulama, hanyalah pada masalah-masalah yang mungkin fatwa bisa disesuaikan menurut kejadian-kejadian kontemporer, bukan dalam bentuk “kemarin bersikap keras dalam satu permasalahan, dan sekarang berubah menjadi sikap lembek dalam perkara yang sama.”

Sebelumnya mereka (Salman cs.) mencela habis-habisan siapa saja yang berinteraksi dengan orang-orang yang menyimpang, bahkan sampai-sampai mereka bersikap begitu keras atas dasar apa yang mereka istilahkan “diam atas Rofidhoh”, padahal umat ini tidak tinggal diam untuk menghadapi Rofidhoh. Negara ini beserta para ulamanya senantiasa berupaya untuk membantah Rofidhoh, akan tetapi dengan ilmu dan hikmah. Dan sekarang ini, mereka beralih menuntut dibukanya sekolah-sekolah Rofidhoh, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak bebas di dalam sekolah-sekolah mereka. Jadi, sangat bertolak belakang dengan sikap pertama mereka yang begitu ekstrem.
Ada sebuah fitnah yang saya dengar dari sebuah kaset orang-orang ini, saya tidak tahu, yang berbicara itu Salman atau yang lainnya. Dia mengatakan kepada sebagian pengikutnya dalam bentuk provokasi dengan mengisyaratkan kebengisan tentara seraya mengatakan : “Saya tidak takut terhadap bala tentara, saya juga tidak takut bahaya atas kalian yang timbul dari bala tentara, akan tetapi saya khawatir bala tentara dari kalian.”

Sekarang dia menyerukan toleransi, mengajak agar semua fihak yang saling berselisih untuk saling memaklumi. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kaset, “kaifa nakhtalifu” (bagaimana kita berselisih?). Dikatakan di dalamnya : “Seyogyanya kita berlapang dada di dalam menghadapi perbedaan, hendaknya kita juga mau mendengarkan semua pendapat, serta janganlah kita bersikap keras terhadap orang-orang yang menyelisihi kita.” Kemudian dia menukilkan perkataan para ulama salaf tentang bagaimana menyikapi perbedaan pendapat yang terjadi diantara para ulama dan imam yang empat. Setelah itu dia membawa perkataan-perkataan tersebut dan dipakai untuk menentukan sikap terhadap perselisihan yang terjadi antara ahlus sunnah dengan ahlil bid’ah.
Ini adalah perkataan yang sangat berbahaya yang terkandung di dalam buku “kaifa Nakhtalif”. Dan ini dibagi-bagikan dalam bentuk kaset dan buku dengan cetakan yang paling lux. Inilah upaya membangun pondasi pikiran-pikiran ini, yaitu pondasi untuk membangun bid’ah-bid’ah dan kesesatan. Fenomena ini amat jelas ketika seorang pemula dari penuntut ilmu membaca buku tersebut, pasti bisa mengetahui kesesatan yang terkandung di dalamnya.

Saya merasa heran, bagaimana perkara seperti ini bisa tidak tampak bagi para senior penuntut ilmu dan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada ahlus sunnah? Bagaimana kebenaran seperti ini bisa tersembunyi di hadapan mereka?

Maka dari itu, kami tekankan terus menerus bahwa ketika kita berbicara dan mengajak bicara ahlus sunnah, kita menggunakan cara berkomunikasi tersendiri. Kami katakan kepada mereka : “bersatulah kalian di atas kebenaran dan tinggalkanlah perselisihan yang memecah belah kalian, karena kalian semua adalah ahlus sunnah.” Akan tetapi apabila kita menghadapi perselisihan antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah, maka perselisihan seperti ini bentuknya berbeda. Sehingga terus menerus kita tekankan, bahwa dalam kita berbicara dan menerapkan berbagai hukum dalam permasalahan, haruslah jelas dan sesuai dengan ketetapan nash-nash. Kita tidak mungkin membawa perkataan para ulama salaf tentang cinta kasih diantara mereka : “Kita berselisih dan berbeda pendapat, akan tetapi perbedaan kita ini tidak boleh menggambarkan perpecahan diantara kita.” Kemudian kita aplikasikan perkataan para ulama salaf ini di dalam perselisihan antara ahlus sunnah dengan Rofidhoh.
Bukti yang terpenting adalah, bahwa di dalam banyak perkataan mereka yang amat menyimpang, meskipun dengan adil kita katakan, bahwa derajat penyimpangan individu-individu ini tidak dalam satu tingkatan. Akan tetapi yang terpenting adalah, kita waspada terhadap manhaj dan metode mereka, serta menjauhi syubhta-syubhat kemudian kembali kepada perkataan para ulama yang kita kenal keselamatan aqidah dan manhajnya dari penyimpangan. Inilah prinsip dasar menurut ahlus sunnah.

[Sumber : Majalah adz-Dzakhiirah, vol. 5, No. 2, edisi 27, tahun 1428H.]

1. Bukti-buktinya telah dibahas panjang lebar di Majalah adz-Dzakhiirah edisi 12 tahun II 1425 dengan tema “Menyingkap Hakekat dan Jati Diri Da’i-Da’i Kondang”, demikian pula di Majalah Al-Furqon (Ma’had Al-Furqon Gresik), edisi 1 tahun V, Sya’ban 1426 H. Dengan tema “Penyimpangan Aidh al-Qorni”, silakan membuktikannya.
2. Tentang kedua orang ini, sialkan membaca kembali majalah adz-Dzakhiirah edisi 24 pada tema “Khowarij Kontemporer” dan “Hakekat Yang Tersembunyi.” Artikel ini dapat dibaca dihttp://www.almanhaj.or.id/.
3. Maka tidaklah mengherankan apabila ada kisah yang menyebutkan bahwa DR. Safar Hawali lulusan fakultas aqidah, pernah menulis bantahan kepada Asy’ariyah. Tetapi sekarang ia tidak mau bukunya itu dicetak kembali, bahkan ia terjerumus dalam ilmu nujum, sebagaimana penjelasan Syaikh ‘Abdul Malik dalam bukunya “Khurofat Haroki”. Pent.
4. Dengan segudang bukti saja, para pengagumnya banyak yang tidak bisa menerima, apalagi tanpa bukti!!!
5. Sekarang ini banyak sekali dai’dai yang terkadang mengaku salafi jika merasa butuh, dan di lain waktu mengingkari penisbatan kepada salaf jika bertentangan dengan manhaj haroki mereka. Ketika ditanya tentang hukum suatu amalan, harokah atau pergerakan yang jelas-jelas bid’ah, mereka menjawab dengan jawaban yang samar dan berputar-putar. Maka inilah salah satu indikasi dai-dai yang terpengaruh dengan pemikiran Salmad, Aidah al-Qorni, dkk.
6. Karena pendapat yang mereka lontarkan seperti ini, lebih dekat kepada hanya sekedar sensasi dan berani tampil beda, serta berseberangan dengan penguasa muslim, bukan karena dalil seperti yang dilakukan oleh para ulama.
7. Rofidhoh adalah salah satu kelompok Syiah ekstrim yang menolak kekhilafahan Abu Bakar dan ‘Umar beserta mayoritas sahabat Nabi. Bahkan tokoh mereka di abad ini, yaitu Khomeini, memiliki doa kejelekan yang khusus untuk dua berhala Quraiys, (dan yang ia maksudkan adalah), Abu Bakar dan ‘Umar yang isinya penuh dengan celaan dan laknat. Lihat Firoq al-Mu’ashiroh jilid 1.
8. Padahal menurut informasi yang kami terima, bahwa syi’ahnya Iraq lebih ekstrem, ganas dan kejam apabila dibandingkan dengan syiahnya Iran.

Mei 23, 2011

Menyingkapi Buku-Buku Yang Menyesatkan

Filed under: Akidah dan Manhaj,Senarai Bacaan — Mohd Riduan Khairi @ 9:05 am

Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman
kredit kepada web salafyoon.

Kami menasehatkan kepada saudara-saudara kami untuk memiliki motto Bersama tinta sampai ke liang kubur, dan tidak berhenti dalam menuntut ilmu dengan duduk di majelis-majelis ulama atau datang langsung kepada mereka dan inilah jalan yang bermanfaat dan paling menyenangkan. Atau juga bisa dengan menekuni buku-buku yang telah diterbitkan atau ditahqiq dari warisan ulama dahulu atau sekarang.

Akan tetapi hasil keilmuan hebat yang tersebar saat ini di berbagai percetakan tidak seluruhnya mempunyai nilai yang sama, ada buku-buku yang penting ada juga yang tidak berguna dan macam ketiga adalah buku-buku yang berbahaya yang tidak mempunyai nilai. Karenanya kami berpendapapt pentingnya pembahasan yang berisi hukum-hukum fiqih berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzir (diperingatkan) oleh para ulama.

I. Hukum Jual Beli Buku Menyesatkan

Wajib bagi para penerbit untuk bertaqwa kepada Allah dalam memilih tema-tema buku yang bermanfaat bagi manusia, untuk membenarkan aqidah dan meluruskan ibadah mereka. Hendaklah mereka berpegang kepada kaedah: Menerbitkan buku yang bermanfaat bagi para pentelaah, bukan buku yang mereka minta. Karena kebanyakan orang umum meminta buku-buku menyesatkan yang laris di pasaran, sehingga memberikan keuntungan materai yang segera kepada penerbit. Jika manusia membutuhkan buku yang bermanfaat, kemudian mereka mencarinya maka demikian itu adalah keadaan yang bagus. Akan tetapi (penerbit) haruslah meniatkan mencari pahala dalam memilih buku tersebut, sehingga penerbit tidak hanya mendapatkan keuntungan harta benda. Barangsiapa melakukan hal tersebut maka dia mendapat pahala di sisi Allah, Insya Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanyai tentang orang yang menyalin (menulis) Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan Al Qur-an dengan tangannya, dengan niat untuk menulis hadits dan niat lainnya. Jika ia menyalin tersebut untuk dirinya sendiri atau untuk dijual, apakah ia mendapatkan pahala?

Maka beliau menjawab (Majmu Fatawa 18/74-75) setelah memuji Shahihain, kitab-kitab Sunan, Musnad dan Muwatha’ dengan redaksi berikut: Manusia mendapat pahala dengan tulisannya tersebut, baik ia menulis untuk dirinya atau untuk dijual sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘sesungguhnya Allah memasukkan tiga jenis orang ke dalam surga dikarenakan satu anak panah (untuk berjihad), pembuatnya, pelemparnya dan orang yang membantunya (untuk mengambil anak panah)’. [Hadits dhaif, lih: Takhrij Fiqhus Sirah oleh Al Albani hal 225-226. Tetapi pengambilan dalil yang dilakukan oleh Syaikhul Islam adalah benar berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia mendapat (pahala) seperti pahala pelakunya.].

Saya (Syaikh Masyhur) katakan bahwa seperti itu (hukumnya) buku-buku yang bermanfaat (yaitu buku-buku selain mushaf dan buku hadits) sebagaimana Allah memberi pahala kepada penyusun, maka penerbitnyapun mendapat pahala juga. Akan tetapi perlu diperhatikan hal-hal berikut:

a. Haram menjual buku-buku yang berisikan syirik dan peribadahan kepada selain Allah.

Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Maad 5/761) ketika membahas jual beli yang terlarang, Dan seperti itu pula haram menjual buku yang berisi syirik dan ibadah kepada selain Allah. Ini semua wajib disingkirkan dan dihilangkan karena menjualnya adalah jalan untuk memiliki dan mengoleksi kitab-kitab tersebut.

Menjual kitab-kitab ini tentu lebih diharamkan daripada menjual barang-barang yang lain karean bahaya menjualnya adalah sebanding dengan bahaya yang dikandung oleh buku itu sendiri.

b. Haram menjual buku-buku yang berisi khurafat dan perdukunan.

Al Wanasy-risyi mengatakan, Sebagian ulama ditanya tentang buku-buku yang berisi hal-hal yang tidak masuk akal dan sejarah yang jelas bohongnya seperti kitab tarikh ‘antarah dan dalhamah dan berisi caci maki, syair, lagu dan lain-lain; apakah boleh dijual atau tidak? Maka mereka menjawab, ‘Tidak boleh dijual dan dilihat’.

Syaikh Abul Hasan al Bathrani menceritakan bahwa ia hadir dalam halaqah fatwanya Ibnu Qidah, ketika beliau ditanya tentang orang yang suka mendengar cerita dari buku ‘antarah, apakah boleh menjadikannya sebagai imam? Maka Ibnu Qidah menjawab, ‘Tidak boleh mengangkatnya sebagai imam dan sebagai saksi. Demikian juga cerita buku Dhlaamah, karena itu merupakan kebohongan, dan orang menghalalkan dusta adalah pendusta. Dan seperti itu (hukum bagi) buku astrologi dan buku-buku mantra dengan bahasa yang tidak diketahui’. (lih: Al Mi’yar Al Mu’arab 6/70).

Adapun keimanannya adalah sah karena orang yang gugur/batal shalatnya tidak membatalkan shalat orang lain. Tetapi tidak seyogyanya menawarkan jabatan imam kecuali kepada orang yang layak. Dan orang yang seperti ini hendaknya dilarang menjadi imam.

c. Tidak boleh menjual buku yang banyak kesalahan, kecuali sesudah dijelaskan.

Ibnu Rusyd ditanya tentang orang yang membeli mushhaf Al’ Qur-an atau buku yang banyak kesalahan dari segi percetakan, lalu ia ingin menjualnya, apakah ia wajib menjelaskannya? Dan jika ia menjelaskannya tentu tidak ada yang mau membelinya. Maka beliau menjawab, ‘Tidak boleh ia menjualnya sehingga ia jelaskan, wabillahit taufiq’. (Fatwa Ibnu Rusyd 2/922-923, Al Mi’yar Al Mu’arab 6/203).

Maka jika menjual buku yang banyak salah dari segi tulisan dan bagian luarnya tidak boleh, maka tentu lebih terlarang jika banyak salahnya dari segi isi dan makna.

d. Haram menjual buku-buku berisi mantra, jimat-jimat taawudz dan cara-cara menghadirkan arwah dan jin.

Ibnu Baththah Al Ukbari berkata, Termasuk bid’ah adalah melihat/memandang buku berisi mantra-mantra dan mempraktekkannya, dan mengaku-aku bisa bicara dengan jin, menjadikan jin sebagai khadam dan membunuh jin. Demikian pula termasuk bid’ah memakai dan menggantung jimat-jimat dan do’a-do’a untuk minta perlindungan kepada jin. (lih: Asy Syahru wal Ibanah hal 361).

e. Haram menjual diwan-diwan syair yang berisi ejekan, dendam dan perkataan kotor.

Imam Al Qurthubi berkata dalam tafsirnya 1/337, Ibnul Qasim membenci mengambil upah sebagai balasan mengajar syair dan nahwu. Ibnu Habib berkata, Tak mengapa mengupah seseorang untuk mengajar syair, risalah dan cerita peperangan prang Arab dan dibenci syair yang berisi dendam, kata-kata jorok dan ejekan.

Berdasarkan perkataan Imam Al Qurthubi di atas, haram menjual diwan-diwan syair yang penuh dengan hal-hal yang bertentangan dengan Islam. Hal ini telah ditegaskan oleh Imam Adz Dzahabi, beliau berkata, Syair adalah ucapan sebagaimana jenis ucapan manusia yang lain, maka syair yang baik adalah baik, dan syair yang buruk adalah buruk. Berlebihan dalam masalah syair adalah mubah kecuali berlebihan dalam menghafal syair-syair, seperti syair-syair Abu Nawas, Ibnu Hajjaj dan Ibnu Faridl, maka dalam hal ini hukumnya haram. Dalam hal seperti ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sungguh perut salah satu kamu penuh berisi nanah sehingga merusak perut lebih baik daripada penuh berisi syair. (Bukhari dalam shahihnya 10/548, Muslim dan shahihnya 4/1769 dari Abu Hurairah).

Maka haram menjual buku-buku mereka kecuali kepada Ahli Ilmi dan Penuntut Ilmu untuk mentahdzir bahayanya. Allah-lah tempat memohon pertolongan. Tidak ada Rabb selain-Nya. Termasuk hal ini adalah diwan-diwan syair yang berisi hal-hal yang bertentangan dengan aqidah Islam, seperti syair Sufi.

As Sakwani berkata di dalam Lahnul Awam, hal 149 setelah menyebutkan syair-syair yang menyelisihi syari’at, Ini semua dan hal-hal yang serupa dengannya adalah haram menyebarkannya dan membiarkannya. Membakarnya adalah wajib dan tidak halal menjualnya di pasar.

f. Haram menjual buku-buku filsafat dan ilmu kalam.

Ibnu Katsir berkata dalam Al Bidayah wan Nihayah 11/69 ketika membeberkan kejadian-kejadian tahun 279H, Dalam tahun ini diumumkan tentang terlarangnya penjualan buku-buku filsafat, ilmu kalam dan debat. Itu merupakan keinginan Abul Abbas Al Mu’tadhid, penguasa Islam.

Hafidzhuddin bin Muhammad yang terkenal dengan sebutan Al Kardiry (wafat 827H) menceritakan sebuah hikayat yang bagus untuk menjelaskan nilai buku-buku ini (filsafat) di sisi para sahabat nabi. Beliau berkata, Diceritakan ketika Amr bin Al Ash menguasai kota Iskandariyah. Disana ada seorang ahli filsafat bernama Yahya yang digelari Thumathikus -yaitu ahli ilmu Nahwu- dan penduduk Iskandariyah melaknat dirinya. Ia menganut sekte Al Ya’qubiyah dalam masalah trinitas, kemudian ia meninggalkan trinitas. Maka penduduk Mesir yang beragama Nashrani mendebatnya dan menjatuhkan martabatnya di tengah-tengah masyarakat. Tatkala Iskandariyah dikuasai Amr maka ia selalu menyertai Amr dan pada suatu hari ia berkata pada Amr, Engkau telah mengetahui rahasia penduduk negeri ini, dan engkau menyegel seluruh gudang yang ada, dan engkau tidak mau mengambil manfaat darinya, padahal dalam hal ini tidak ada seorangpun yang menentangmu. Dan apa-apa yang tidak engkau manfaatkan, maka lebih baik diserahkan kepada kami saja. Maka Amr berkata, Apa yang engaku butuhkan? Yahya berkata, Buku-buku filsafat yang ada di gudang. Itu tidak mungkin kecuali dengan ijin Amirul Mukminin, Jawab Amr.

Kemudian Umar menulis jawaban kepada Amr, Adapun buku-buku yang telah kau ceritakan, jika sesuai dengan Kitabullah maka Kitabullah sudah mencukupinya, jika tidak sesuai dengan Kitabullah maka tidak diperlukan. Oleh karena itu lenyapkanlah buku-buku itu.

Maka Amr membagikan buku-buku tersebut pada perapian-perapian di Iskandariyah dan memerintahkan untuk membakar buku-buku tersebut, sehingga selesailah pemusnahan buku-buku filsafat dalam jangka waktu enam bulan.

g. Haram menjual buku-buku karya Al Hallaj, Ibnu Arabi dan tokoh-tokoh Sufi lainnya.

Al Malik Al Muayyid Ismail Abu Fida dalam Akhbar Al Basyar 4/79. Ketika tahun 744H di tahun itu kami mengkoyak-koyak dan mecuci (melunturkan tinta) Kitab Fushulul Hikam karya Muhyidin Ibnu Arabi di Madrasah Al Ush furiyah di Halb sesudah pelajaran (di depan para murid) sebagai peringatan haramnya menelaah dan memiliki kitab tersebut dan aku berkata, Kitab Fusuh ini sebenarnya tidaklah berharga aku telah membaca goresan-goresannya ternyata isinya adalah sebaliknya.

II. Hukum Menghancurkan Buku-Buku Ahli Bid’ah dan Sesat

Di dalam Ash Shawarimul Haddad hal 68 Imam Syaukani menukil ucapan sekelompok ulama seperti Al Bulqainy, Ibnu Hajar, Muhammad bin Arafah, dan Ibnu Khaldun, berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzir. Hukum mengenai buku-buku yang berisi aqidah yang menyesatkan dan buku-buku yang banyak beredar di tengah masyarakat seperti Al Fushulul Hikam dan Futuhatul Makiyah karya Ibnu Arabi, Al Bad karya Ibnu Sab’in, Khal’un Na’lain karya Ibnu Qasi, ‘Alal Yakin karya Ibnu Barkhan dan disamakan dengan buku-buku ini kebanyakan syair-syair Ibnu Faridl dan Al Afif At Tilmisani. Demikian juga buku Syarh Ibnul Farghani terhadap qasidah At Taiyah karya Ibnul Faridh. Hukum dari buku-buku ini dan semisalnya adalah harus dilenyapkan kapan saja ditemukan dengan cara dibakar atau dilunturkan tintanya dengan air.

Imam Ibnul Qayyim mempunyai perkataan yang sangat bagus tentang keharusan membakar dan menghancurkan buku-buku ahli bid’ah dan sesat, dan bahwa orang yang melakukan hal tersebut tidak menanggung ganti rugi, beliau berkata, … demikian juga tidak ada ganti rugi di dalam membakar dan menghancurkan buku-buku yang menyesatkan.

Al Marudzi berkata kepada Imam Ahmad, Aku meminjam buku yang banyak berisi hal-hal yang jelek, menurut pendapatmu apakah (lebih baik) aku rusakkan atau aku bakar? Imam Ahmad menjawab, Ya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat buku di tangan Umar yang ia salin dari Taurat dan ia terkagum-kagum dengan kecocokan Taurat dengan Al Qur-an, maka berubahlah raut muka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga pergilah Umar ketungku lalu melemparkannya ke dalam tungku.

Maka bagaimanakah seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat buku-buku yang ditulis untuk menentang Al Qur-an dan Sunnah. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan orang yang menulis dari beliau selain Al Qur-an hendaklah ia hapus, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan menulis As Sunnah dan tidak ada ijin untuk selain itu.

Dan setiap buku yang berisi hal-hal yang menyelisihi sunnah tidaklah diijinkan, bahkan diijinkan untuk membakar dan menghancurkannya. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi umat ini daripada buku-buku sesat itu. Bahkan para sahabat membakar semua mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsman karena ditakutkan terjadi perselisihan di tengah ummat, maka bagaimanakah jika para sahabat melihat buku-buku yang telah menimbulkan perselisihan dan perpecahan di tengah-tengah ummat?

Al Khalal berkata bahwa Muhammad bin Harun mengabarkan padanya bahwa Abul Harits telah bercerita kepada mereka bahwa Abu Abdilah (Imam Ahmad) berkata, Mengarang buku telah membinasakan mereka, mereka meninggalkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menerima ilmu kalam.

Al Khalal berkata bahwa Muhammad bin Ahmad bin Washi Al Muqri mengatakan bahwa ia mendengar Abu Abdillah ditanyai tentang ra’yu (pendapat), maka beliau menjawab, Sesuatu yang berasal dari ra’yu tidak akan tetap, wajib atas kalian menetapi Al Qur-an, Al Hadits dan Atsar.

Di dalam riwayat Ibnu Masyisy ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad, Bolehkah aku menulis ra’yu, maka beliau menjawab, Apakah yang akan kalian perbuat dengan ra’yu? wajib atas kalian belajar sunnah dan tetapilah hadits-hadits yang telah dikenal (keshahihannya).

Sesungguhnya buku-buku yang berisi kebohongan dan bid’ah wajib dihancurkan dan dimusnahkan. Hal ini lebih wajib daripada menghancurkan alat-alat permainan, musik serta menghancurkan bejana khamr, karena bahaya buku yang menyesatkan lebih berbahaya dari bahaya alat-alat ini. Dan tidak ada ganti rugi dalam masalah ini, sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam hal memecahkan bejana khamr (Ibnul Qayyim di dalam At Turuq Al Hukumiyah fi Siyasah Asy Syar’iyah hal 322-325).

Di dalam kisah taubat Ka’ab bin Malik dia mengatakan, Maka aku menuju perapian dan kemudian aku bakar surat itu (yaitu surat raja Ghosan) [HR. Bukhari dan Muslim].

Ibnul Qayyim berkomentar, Di dalam kisah ini ada anjuran untuk bersegera menghancurkan hal-hal yang menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi agama. Orang yang teguh hati tidaklah menunggu-nunggu dan mengulur-ulur hal itu. Seperti ini juga sikap yang harus diberikan kepada khamr dan buku-buku yang ditakutkan menimbulkan bahaya dan kejelekan, yaitu dengan penuh kemantapan hati segera menghancukan dan memusnahkannya. (lih Zaadul Ma’ad 3/581).

Syaikhul Islam juga telah memberikann fatwa untuk membakar beberapa kitab, lihat akhir no. 59 dari kitab Al Akhbar di dalam Al Jami’ yang terdapat dibagian akhir Mushannaf Abid Razzaq 11/424 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/211-212 cetakan Darul Fikr, Bab: .. dan membakar kitab.

Abu Abdilah Al Hakim berkata, Ishaq, Ibnul Mubarak dan Muhammad Yahya, mereka semua memendam buku-buku yang mereka tulis, demikian diceritakan oleh Imam Adz Dzahabi di dalam Siyar 2/337 dan berkomentar, Inilah perbuatan beberapa imam yang menujukkan bahwa mereka menganggap tidak bolehnya mengambil ilmu secara wijadah (membaca sendiri) karena tulisan kadang berubah di tangan penukil dan mungkin bertambah satu huruf sehingga merubah makna. Adapu sekarang, kebohongan telah tersebar, sedikit orang yang mau belajar dien lewat mulut para guru dan juga dari buku-buku yang tidak ada kesalahannya, bahkan sebagian penukil kitab terkadang tidak bisa mengeja dengan baik.

Pada biografi Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala Al Hamdani (wafat 248H), Muthayan berkata, Abu Kuraib berwasiat agar buku-buku karyanya dipendam, maka dilaksanakan wasiat beliau. Kemudian Adz Dzahabi di dalam Siyar 11/397 memberikan komentar: Beberapa ahli hadits telah mewasiatkan agar buku-bukunya dipendam, dibakar atau dicuci karena takut buku tersebut dipegang oleh muhaddits yang kurang agamanya, kemudian ia akan merubah-rubah dan menambahinya, kemudian hal itu dinisbatkan kepada Al Hafidz (pemilik kitab hadits). Atau di dalam kitab itu terdapat riwayat yang putus atau lemah yang tidak pernah ia ceritakan, sedangkan yang telah ia riwayatkan adalah hal-hal yang telah dipilih. Maka ia pada akhirnya membenci hasil tulisannya, dan tidak ada jalan lain kecuali harus dimusnahkan. Karena hal ini dan lainnya ia memendam buku-bukunya.

Buku-buku yang penuh dengan racun kalajengkin dan ular (yang berisi kejelekan dan kemungkaran) lebih layak untuk dipendam, dimusnahakan dan dibakar.

Mungkin teori modern terhadap kebebasan berpikir yang ada di zaman ini menganggap sikap seperti ini adalah ta’ashub (ekstrim), akan tetapi itulah sikap yang benar dengan memandang kemaslahatan umat Islam. Karena umat Islam adalah sebuah jama’ah yang satu fikrahnya. Dan kewajibannya yang dibebankan Islam ke punggung umatnya tidak mungkin dilaksanakan tanpa kesatuan ini. Maka Islam tidak rela musnahnya kesatuan fikrah ini untuk membawa umat kepada kemurtadan pemikiran dan kekacauan pemikiran. Karena umat tidak akan mampu melawan kekuatan penentang di dalam bidang iptek selama keimanan mereka terhadap falsafat hidupnya masih lemah dan asas (landasan) berpikirnya belum kokoh. Sejarah menyaksikan bahwa setiap dasar (asas) berpikir umat roboh, menyebabkan filsafat asing (kufur) melelehkan umat dari dalam. Umat yang dahulunya melahirkan da’i-da’i yang menyeru menuju agama Allah dan pembawa bendera kebenaran berubah melahirkan orang-orang kafir, durhaka lagi menentang.

Sikap tegas terhadap buku-buku yang menyelisihi Al Qur-an dan Sunnah ini bukan berarti tidak mengobati khilaf (perselisihan) yang tumbuh di tengah umat yang lembut, saling memahami dan diskusi, atau berarti menghilangkan perselisihan dengan kekerasan. Bahkan sikap ini sebenarnya bermakna kerja keras agar umat tetap berada di atas jalan yang haq, berpegang teguh terhadap iman dan diennya, tanpa melarang diskusi pemikiran yang terarah dan bantahan terhadap pembahasan ilmiyah dan pemikiran dengan pembahasan yang serupa dalam bentuk bantahan ilmiah yang kokoh. Imam Ibnul Qayyim berpendapat bahwa bantahan ilmiah terhadap buku-buku tersebut tidak hanya mubah terkadang wajib atau mandub (disukai) tergantung keadaan.

Maraji: Majalah As Sunnah Edisi 12 / Th. IV / 1421-2000, Diterjemahkan oleh Aris Munandar bin S Ahmadi Lamfunji.

April 21, 2011

Imam Syafi’i dan Mazhab Syafi’i

Filed under: Akidah dan Manhaj,Fikah & Usul Fikah,Tokoh — Mohd Riduan Khairi @ 12:06 am

Pengasasan dan Pengembangan Mazhab Syafie
Penulis : Muhammad Abu Zahrah
Penterjemah : Dr Kassim Mat Salleh
Penerbit : Yayasan Islam Terengganu (1997)
Halaman : 379 halaman

Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i
Penulis : KH Sirajuddin Abbas
Penerbit : Pustaka Aman Press (1985)
Halaman : 343 halaman

Dua buah buku ini mewakili kem penyokong kuat mazhab Syafi’i. Sebelum itu perlu diluruskan, bahawa pendiri mazhab yakni Imam Asy-Syafi’i dan mazhab yang disandarkan kepada beliau merupakan dua entiti yang berbeza. Tidak sedikit amalan yang disandarkan kepada mazhab Syafi’i, namun Imam Asy-Syafi’i rahimahullah sendiri berlepas diri darinya.

Justeru membaca dan mengkaji dua naskah ini dapat memberi penjelasan tentang pola berfikir mazhab Syafi’i. Sekali lagi memahami pola berfikir mazhab Syafi’i, dan tidak semestinya ia bertepatan dengan apa yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i. Untuk memahami secara tepat dan lurus susuk tubuh Imam Syafi’i dan pola pemikirannya, tentu cara yang paling benar ialah mengkaji buku-buku tulisan beliau seperti Al-Umm, Ar-Risalah dan yang lain. Atau setidak-tidaknya mengkaji karya anak-anak muridnya yang utama seperti Imam al-Humaidi, al-Muzani, al-Buwaiti dan tidak terlepas juga ialah ulama yang paling menonjol dalam mazhab Syafi’i, yakni Imam Nawawi rahimahullah.

Buku yang kedua karangan KH Sirajuddin Abbas yang penuh kontroversi akan serangan beliau terhadap kelompoh ahlus sunnah dan tokohnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dalam bukunya Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah : baca penjelasan).

Baca lagi

Judul bukunya sahaja sudah menampakkan sikap berlebihan dan fatanik terhadap tokoh dan mazhab tertentu. Dan sikap ini sangat jelas bersalahan dengan sikap Imam Asy-Syafi’i sendiri. Bahkan beliau, Imam Syafi’i melarang pengikut-pengikutnya bertaklid buta terhadapnya. Pesan beliau yang paling utama ialah tetap berpegang teguh dengan Kitab dan Sunnah sehingga diberi gelaran Nashir Sunnah.

April 13, 2011

Bidak-Bidak Di Papan Catur Iblis

Filed under: Akidah dan Manhaj,Politik — Mohd Riduan Khairi @ 9:30 am

Buku Bidak-bidak Di Papan Catur Iblis ini sudah lama terkenal di seluruh dunia kerana fakta-fakta dan peristiwa sejarah yang melibatkan bangsa-bangsa besar di dunia dengan dokumen-dokumen yang sah yang masih tersimpan di perpustakaan-perpustakaan muzium di Eropah dan Amerika.

Buku ini dapat mengemukakan tafsiran amali kepada ayat-ayat Al-Qur’an tentang suatu keturunan manusia yang mengaku diri mereka sebagai ‘Manusia Terpilih‘, sementara al-Qur’an menyifatkan mereka sebagai “Bangsa Perosak DI Muka Bumi”.

William Guy Carr, penulis buku ini berasal dari keturunan Inggeris menjelaskan sejauh mana gelaran yang diberikan oleh Al-Qur;an itu.

Bangsa inilah yang menjadi ejen iblis disokong oleh golongan “Luciferean Ideologi” yang dipelopori oleh “Illumaniti”. Ayat-ayat Al-Qur’ann telah berulangkali mengingatkan tentang tipu daya yang dilakukan oleh ejen-ejen iblis tersebut.

Umat Islam harus ingat kepada pesanan Allah dalam ayat-ayat suci supaya menganggap syaitan dan ejen-ejennya sebagai musuh yang setiap saat menjalankan tipu-helahnya untuk menyesatkan manusia.

Judul Asal : Pawns In The Game
Penulis : William Guy Carr
Terjemahan : Ismail bin Mohd. Hassan
Cetakan : Yayasan Islam Terengganu (ke-3, 1999)
Harga : RM 15.00 (plus kos pos RM 5.00)
Halaman : 227 mukasurat

Untuk membeli emel ke riduankhairi.enterprise@gmail.com

Januari 12, 2011

Syiah Rafidhah : Antara Kecuaian Ulama & Kebingungan Ummah

Filed under: Akidah dan Manhaj,Tips membaca — Mohd Riduan Khairi @ 9:06 am
Tags: , , ,

Syiah Rafidhah : Antara Kecuaian Ulama’ dan Kebingunan Ummah

Pengarang : Maulana Asri Yusof

Penerbit : Pustaka Bisyarah 2006

98 halaman

Tiba-tiba isu Syiah panas semula selepas penangkapan 200 pengikut ajaran yang difatwakan sesat di Gombak baru-baru ini. Kepada orang awam ia mengejutkan. Namun kepada penuntut ilmu yang tidak pernah berhenti menghadiri majlis kajian Al-Qur’an dan hadis, perkara ini sudah dijangkakan.

Syaikh Dr Soleh Fauzan Al-Fauzan menjelaskan di dalam kitabnya Irsya Ila Sahiihi Iktikad (judul terj. Sudah Benarkah Akidah Kita), bahawa salah satu dari tanda dekatnya kiamat ialah berkembangnya ajaran Syiah.

Ajaran Syiah bukan perkara baru. Bahkan sejarah Islam mencatatkan Syiah merupakan antara bid’ah terawal muncul dalam ajaran Islam. Dan idealogi Syiah juga menjadi ejen perpecahan yang paling awal dan utama dalam Islam.

Ia bergerak menyusup dalam umat Islam dengan memakai topeng ahlul bait (ahli keluarga Rasulullah). Tidak sedikit dari golongan umat Islam yang jahil terpedaya dengan dakyah simpati kepada perjuangan ahlul bait ini.

Ironinya, entah bagaimana pula ahlul bait bercampur nasab dan darah dengan bangsa Parsi. Lebih ironi lagi ialah definisi ahlul bait menurut tilikan Syiah dipilih-pilih. Isteri-isteri Nabi seperti Aisyah tidka dimasukkan ke dalam senarai ahlul bait menurut mereka. Bahkan lebih jelek dari itu, Aisyah menjadi mangsa fitnah dan cercaan ornag-orang Syiah yang kononnya menyanjung ahlul bait.

Pengarang buku ini Maulana Asrie Yusof merupakan seorang yang pakar dalam selok-belok ajaran Syiah. Latar belakang pendidikan beliau di benua kecil India banyak membentuk kepakaran beliau. Ini kerana ajaran Syiah cukup segar berkembang di benua itu. Ini dijelaskan oleh pengarang di dalam naskah ini.

Beliau juga menukilkan perjalanan sejarah usaha-usaha mendekatkan antara mazhab Sunni dan Syiah. Dahulunya pernah dipelopori oleh ulama-ulama dari Universiti al-Azhar. Ulama-ulama di benua India ketika itu, menurut Maulana Asri, mengkritik dan tidak menyetujui usaha ‘berdamai’ ini. Ini kerana kedok dan kejahatan Syiah di benua India lebih parah berbanding di Tanah Arab ketika itu. Sementelahan pula banyak kitab-kitab rujukan Syiah dikarang dalam bahasa Urdu dan belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Naskah Maulana Asri ini walaupun bersaiz sederhana namun padat dengan hujah dan jawapan terhadap syubhat yang disogokkan oleh puak sesat Syiah.

Beliau juga menyorot beberapa tokoh yang menulis dan membongkar kesesatan Syiah. Antara yang beliau nyatakan termasuk Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah. Dilaporkan beliau dibunuh oleh orang Syiah kerana pendedahan berani yang dilakukan. Antara buku karangan beliau ialah :

  1. Syiah wa Sunnah
  2. Syiah Wa Ahlul Bait
  3. Syiah Wa Al-Qur’an
  4. Syiah Wa Tasyayyuk Firaqun Wa Tahrifu Wa Tarikh

Tokogh lain yang menulis tentang kejahatan Syiah ialah Maulana Abu Hasan Ali al-Hasani An-Nadwi rahimahullah (Suratan Mutadhaddatan) dan Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi hafidzahullah (Hazihi Nasihati Ila Kulli Syi’iyyin). Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi merupakan salah seorang tenaga pengajar di Masjid Nabi, Madinah. Beliau mengarang beberapa kitab besar termasuk Minhaj Muslim dan Tafsir Al-Aisar.

Pada akhir buku ini Maulana Asri menyodorkan kesimpulan yang dibuat oleh banyak ulama’ salafusolleh tentang kedudukan Syiah. Beliau mengkritik hebat pegangan sebilangan ilmuwan mutakhir termasuk ilmuwan tempatan yang masih berbasa-basi tentang kedudukan Syiah dalam Islam.

Menurut pengarang buku ini, hujah dan pendapat yang mengatakan Syiah terkeluar dari ajaran Islam sangat kuat. Beliau membawakan perkataan-perkaraan ulama termasuk Syaikh Abdul Qadir Jailani, Mulla Ali Qari dan Anwar Syah Kasymiri.

Dapatkan naskah ini. Selamat menyemak!

Januari 10, 2011

Buku Tentang Firqah Islam

Filed under: Akidah dan Manhaj,Senarai Bacaan — Mohd Riduan Khairi @ 9:11 am

Buku-buku Berkaitan Syiah

Ada orang berpendapat dakwah perlu menceritakan perkara yang baik-baik sahaja. Ajak orang solat, ajak orang senyum, ajak orang sedekah dan kempen perkara-perkara baik yang lain. Pokoknya kempen yang baik-baik sahaja.

Dan keyakinan ini juga menyatakan menceritakan perkara yang salah dan buruk akan membuatkan manusia lari dari dakwah. Ini berlaku bukan sahaja pada individu Muslim, sebaliknya turut menjangkiti kelompok-kelompok kaum Muslimin. Sedangkan mereka menyandarkan kelompok mereka kepada Islam dan dakwah.

Dilaporkan seorang tokoh dari sebuah kelompok dikenakan tindakan bahkan dipecat kerana melakukan ‘nahi mungkar’ (mencegah kemungkaran). Ini kerana kelompok tersebut hanya menyeru kepada perkara yang makruf sahaja dan semata-mata.

Kesalahan begini berlaku juga dalam metod pendidikan. Ada orang yang mengaku pakar pendidikan atau pakar psikologi mendakwa bahawa anak-anak tidak boleh dilarang-larang. Kerana, menurut mereka semakin ‘semakin dilarang, semakin dibuat’. Ini merupakan satu jarum halus untuk meruntuhkan sistem pendidikan yang diajar dalam Al-Qur’an dan ditunjukkan oleh Nabi melalui sunnahnya. Di dalam bukunya (terjemahan) Mendakwahi Anak (Dasar dan Tahapannya), Dr Fadhl Ilahi menyenaraikan metod pendidikan yang diajarkan oleh Nabi. Beliau bukan sahaja membawakan contoh-contoh perintah yang diberikan oleh Nabi kepada anak-anak, bahkan beliau juga membawakan banyak contoh larangan dan cegahan Nabi kepada anak-anak kecil yang berada disampingnya.

Prinsip menyatakan yang betul sahaja, jelas bertentangan dengan perintah Allah untuk ‘seru yang baik, cegah yang mungkar’.

Amar Makruf Nahi Mungkar Dalam Akidah

Dalam akidah umat Islam umumnya banyak diajar dengan perkara-perkara yang betul sahaja. Seperti rukun iman 6 perkara, rukun Islam 5 perkara dan rincian-rinciannya (walaupun rincian dan perbahasannya masih banyak boleh dibaiki).

Manakala yang salah dalam akidah tidak diajarkan. Sebagai contoh mudah ada puak yang mengaku Islam mendakwa rukun iman mereka berbeza dengan rukun iman yang diajarkan oleh Jibril (salam keatasnya) kepada Nabi Muhammad (selawat dan salam buat beliau). Orang-orang Syiah memasukkan ‘taqiyah’ (berpura-pura) dan ‘imam dua belas sebahagian dari perkara imam yang wajib dipercayai.

Kesan dari mengajarkan hanya perkara yang betul maka kita lihat muncul dan berkembangnya perkara-perkara salah dalam agama. Dalam akidah perkara salah ialah firqah-firqah sesat dalam Islam. Justeru, tidak hairan di kalangan orang-orang yang ditangkap dan terdakwa menganut ajaran sesat, ada di kalangan mereka punya latar belakang agama (pendidikan formal) yang tidak kalah tinggi. Bahkan ada yang menyandang gelar pensyarah, doktoral dan professor.

Sebagai contoh yang paling hampir dengan kita ialah kes penangkapan lebih 200 penganut ajaran Syiah di Gombak baru-baru ini. Yang ditahan bukan sembarangan orang. Ada yang berpendidikan tinggi. Senario ini sama dengan ajaran-ajaran sesat lain yang berkembang.

Faisal Tehrani dan Syiah

Polemik penangkapan penganut ajaran sesat Syiah menjadi panas dan berlanjutan. Ia menarik perhatian massa untuk memahami dan mengetahui apakah sebenarnya ajaran Syiah. Di tambah pula beberapa figur dalam masyarakat terkait dengan fahaman Syiah ini. Salah seorang yang lantang dan menggelejat seperti cacing kepanasan ialah penulis novel Faisal Tehrani. Beberapa institusi agama dan institusi awam sudah mengambil langkah berhati-hati dengan melarang FT terlibat dengan kegiatan di premis mereka. Dan sudah ada kenyataan dari badan berotoriti dalam agama yang menegaskan betapa kuatnya pengaruh Syiah dalam karya-karya Faisal Tehrani. Dan yang terbaru FT melanjutkan dakyahnya lewat cerpen yang disiarkan  dalam akhbar Mingguan Malaysia dengan tajuk Wikifiqh. Insya Allah bantahan dan pendedahan kerancuan cerpen Wikifiqh akan menyusul kemudian.

Dalam dana kehairanan umat Islam terpinga-pinga tertanya, “mengapa akhir-akhir ini banyak ajaran sesat muncul berleluasa?”

Dan ada juga yang mengeluh, “mengapa ada orang-orang yang terpelajar terpengaruh dengan ajaran sesat seperti Syiah?”

Jawapannya sudah disebutkan oleh nabi dan sudah pun dijelaskan oleh para ulama’ sepanjang zaman.

Di dalam bukunya al-Irsyaad Ila Sahihi Iktiqad (terj. Sudah Benarkah Akidah Kita), Syaikh Dr Soleh Fauzan al-Fauzan menjelaskan, antara tanda-tanda dekatnya kiamat ialah “munculnya golongan yang sesat seperti Khawarij dan Rafidhah.”

Buku-Buku Yang Menjelaskan Syiah dan Akidah Sesat Yang Lain

Buat pencinta ilmu dan orang-orang yang ikhlas mencari kebenaran saya senaraikan beberapa buku-buku yang bermanfaat untuk mengkaji firqah dan golongan sesat dalam Islam.

1. Al-Milal Wa Al-Nihal karangan Muhammad bin Abdul Karim Al-Syahrastani (469-548 H/ 1076-1153M). Terjemahan oleh Prof Asywadie Syukur, PT Bina Ilmu Surabaya.

Tidak keterlaluan jika saya katakan buku ini merupakan teks wajib untuk mengkaji kelompok-kelompok pemikiran dalam Islam. Bahkan lebih dari itu ia juga memuatkan kajian terhadap agama dan aliran falsahah yang lain seperti Yahudi, Nasrani, Majusi, Yunani, Brahma dan banyak lagi.

Karangan Syahrastani ini diiktirf sebagai karya yang pertama menyusun kajian agama dan falsafah secara sistematik. UNESCO telah menaja terjemahan buku ini ke dalam bahasa Perancis dengan judul Livre des religions et des sects.

Bab Syiah dibincangkan dalam 40 halaman.

2. Aqaid Firaq Dhallah wa Aqidah Firqah Najiyah (Menyingkap Aliran dan Paham Sesat) karangan Ummu Tamim Izzah binti Rasyad. Terjemahan oleh Sufyan Zaidin Sinaga, Pustaka Imam Ahmad Jakarta.

Ini buku kontemporari. Bab Syiah dibincangkan sebanyak 18 halaman. Pengarang buku ini merupakan anak murid sarjana hadis Syaikh Mustafa al-Adawi dari Mesir.

Baca rebiu : http://encikbaca.wordpress.com/2010/12/06/menyingkap-aliran-dan-paham-sesat/

3. Mulia Dengan Manhaj Salaf. Karanga Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, Pustaka At-Taqwa, Jakarta.

Buku ini memberi fokus kepada manhaj salaf. Pada bahagian akhir buku ini dimuatkan beberapa contoh golongan yang sesat seperti Khawarij, Jaringan Islam Liberal, Jamaah Al-Arqam, Syiah, Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, Jamaa’h Tabligh dan beberapa lagi.

Yang bagusnya buku ini ialah, pengarang membawakh beberapa syubuhat atau kekeliruan yang sering ditimbulkan oleh golongan sesat. Kemudian pengarang membawakan pula jawapan dan bantahan terhadpa syubbat tersebut.

4. Kemudian antara buku-buku khusus yang menjelaskan tentang Syiah yang dituliskan oleh Maulana Muhammad Asri Yusof. Beliau ditokohkan antara orang yang pakar dan sering dirujuk dalam isu Syiah. Buku beliau ialah Pengaruh Syiah dalam Tasawuf dan Tarikat dan Syiah Rafidhah : Di Antara Kecuaian Ulama; dan Kebingunan Umah. Keduanya terbitan Pustaka Basyirah, Kelantan.

Ada beberapa lagi naskah yang menjelaskan tentang golongan sesat dalam Islam khususnya Syiah. Namun, saya masih belum sempat membaca dan menelitinya. Atas dasar amanah ilmu, saya perlu membaca dan menyemak terlebih dahulu kandungannya sebelum dipanjang atau direkomenkan kepada orang lain. Ini kerana kata nabi yang maksudnya seseorang itu sudah dianggap berdusta apabila menyampaikan setiap apa yang dia dengar atau tahu sebelum menyemaknya.

Semoga tulisan ini memberi manfaat kepada pembaca. Wallahuaklam.

Disember 27, 2010

Kaedah Menyingkapi Tokoh Kesesatan

Filed under: Akidah dan Manhaj,Dakwah — Mohd Riduan Khairi @ 12:06 am

Judul Asal : Hajar Mubtadi (Memulau Ahli Bid’ah)

Penulis : Syaikh Bakar bin Abu Zaid (Maktabah As-Sunnah)

Penterjemah : Abu Fuad (Islamic Da’wah)

Syaikh Bakar Bin Abu Zaid (wafat 2008). Beliau merupakan antara sarjana Islam kontemporari yang tersohor. Menulis hampir dalam semua bidang. Beliau menuntut ilmu dengan beberapa sarjana termasuk Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan pakar tafsir Syaikh Muhammad Amin Asy-Syanqiti.

Buku setebal 96 halaman ini membincangkan isu ‘hajar‘ atau dalam perkataan Melayunya memulau atau boikot.

Perbuatan memulau atau boikot orang yang melakukan maksiat (kesalahan) sudah ada contohnya pada zaman Nabi. Contoh yang masyhur ialah kisah Nabi dan para sahabat memboikot Kaab bin Malik dan dua sahabatnya. Ini kerana mereka tidak menyertai Perang Tabuk tanpa alasan yang syar’ie.

Syaikh Bakar bin Abu Zaid menjelaskan kaedah atau prinsip meng’hajr‘. Antara yang dibahaskan termasuk,

  • Jenis-jenis hajr
  • Syarat-syarat hajr secara syar’ie
  • Kriteria Syar’ie dalam hajr
  • Kedudukan Hajr dalam Perkara Akidah

Buku ini juga menyentuh fenomena hajr yang dilakukan tidak mengikut aturan dan keperluan. Beliau menunjukkan beberapa contoh hajr yang dilakukan oleh ulama salaf, namun disalahtanggapi oleh pendakwah zaman sekarang.

Kesimpulannya, buku ini amat bermanfaat kepada pencinta ilmu dan pendakwah.

Disember 24, 2010

Manhaj Ahlussunnah dalam Mengkritik Tokoh, Kitab dan Aliran

Filed under: Akidah dan Manhaj — Mohd Riduan Khairi @ 7:17 am

Tajuk : Manhaj Ahlus Sunnah dalam Mengkritik Tokoh, Kitab dan Aliran
Tajuk Asal : Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdi ar-Rijaal wal Kutub wat-Thawaa’if
Penulis : Dr. Rabi’ Bin Hadi Umair al-Madkhali
Pembimbing : Syaikh Abdul Aziz ibnu Abdullah Ibnu Baz
Pembimbing : Syaikh Abdul Aziz Arrajihi
Penerbit : Najla Press, Jakarta, Februari 2004
Penterjemah : Abu Lutfi

Buku ini milik sahabat saya, Abu Amru Radzi Othman. Yang juga teman serumah saya. Naskah ini sudha berada di atas rak buku rumah kami sejak beberapa tahun dahulu. Namun saya baru sempat menyelaknya menikmati buah butir sarjana tersohor ini.

Dr Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali hafidzahullah merupakan seorang sarjana dan ilmuwan kontemporari yang sangat dihormati dan disegani. Beliau adalah salah seorang anak murid Muhaddis Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani yang paling menguasai bidang hadis.  Beliau juga berguru dengan beberapa tokoh seperti Syaikh Abdul Azin bin Baz rahimahullah dan Prof Dr Abdul Muhsin Abbad hafidzahullah.

Seperti mana yang berlaku kepada tokoh-tokoh ilmuwan sepanjang zaman, ibarat kata pepatah,”hanya buah yang baik sahaja dibaling orang“. Seperti gurunya Syaikh al-Albani, beliau juga sering menjadi mangsa fitnah, kritikan dan tohmahan dari kelompok yang tidak sealiran dengannya.

Rebiu : Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Mengkritik Tokoh, Kitab dan Aliran

Secara ringkasnya buku ini mengupas persoalan ‘fiqh muwazzanah‘. Fiqh muwazanah bermaksud ‘pertimbangan’.

Menurut pengarang, tokoh, kitab atau aliran yang dikritik dan mempunyai kesalahan dalam bab akidah, maka tidka perlu menyebutkan kebaikan mereka. Beliau membantah beberapa aliran yang mengatakan bahawa perlunya muwazanah atas alasan untuk berlaki adil.

Metod Al-Qur’an

Hal ini dibantah tegas oleh pengarang. Beliau membawakan metod Al-Qur’an mengkritik tokoh-tokoh sesat tanpa menyebutkan walau sedikit pun kebaikan dan sumbangan mereka.

Metod Ulama Salafussoleh

Bagi menguatkan hujah beliau, pengarang menunjukkan bukti dari kitab-kitab dan perkataan ulama salaf. Antaranya metod yang digunakan oleh ulama hadis ketika melakukan penilaian terhadap perawi hadis. Para sarjana hadis seperti Imam Bukhari, Imam Nasa’i menyusun buku khusus untuk menyebutkan sisi buruk dan lemah perawi-perawi hadis. Antaranya seperti Ad-Duafa wal Matrukin oleh Imam An-Nasai yang menyenaraikan perawi-perawi yang lemah dan bermasalah. Tanpa langsung menyebutkan kebaikan mereka.

Tuntasnya buku ini menyatakan bahawa manhaj ahlus sunnah bersikap tegas dalam perkara yang melibatkan prinsip seperti bab akidah hukum. Tokoh dan kitab yang jelas menyalahi prinsip akidah dan hukum ahlus sunnah perlu ditinggalkan.

Theme: Rubric. Blog di WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.